Ustaz Riza Muhammad Lebih Sering Pamer Otot daripada Ayat, Publik Bertanya: Dakwah atau Bodybuilding?
Ustaz Riza Muhammad mendapat sorotan karena konten gym-nya mendominasi media sosial, menyisihkan konten dakwah. Netizen pun bertanya-tanya apakah fokusnya bergeser dari spiritual ke fitness.
Reyben - Ustaz Riza Muhammad kembali menjadi topik pembicaraan di media sosial, kali ini karena alasan yang cukup unik. Seorang tokoh agama yang semestinya fokus pada penyebaran pesan-pesan spiritual rupanya lebih aktif membagikan foto dan video aktivitas gym. Pergeseran konten ini tidak luput dari perhatian pengikutnya, yang mulai mempertanyakan prioritas sang ustaz. Pertanyaan sederhana namun menohok pun bermunculan di kolom komentar: "Ustaz atau binaragawan sih sebenarnya?"
Mengamati timeline Riza Muhammad dalam beberapa waktu terakhir, memang terlihat dominasi konten workout yang mencolok. Foto-foto dengan barbel, video latihan intensif, dan capaian personal di gym tampak memenuhi feed media sosialnya. Sementara itu, konten dakwah dan ceramah spiritual yang sebelumnya menjadi ciri khasnya semakin jarang diunggah. Fenomena ini menciptakan semacam paradoks: bagaimana seorang ulama bisa lebih produktif dalam mempromosikan gaya hidup fitness daripada menyebarkan pesan-pesan keagamaan kepada jutaan pengikutnya?
Netizen tidak tinggal diam melihat transformasi digital ustaz tersebut. Kritikan bernada humor dan sarkasme segera membanjiri timeline. Ada yang mengatakan bahwa perjalanan Riza Muhammad lebih terlihat seperti transformasi fisik seorang atlet profesional daripada perjalanan spiritual seorang pemimpin agama. Beberapa pengikut justru mengekspresikan kekecewaan mereka, merasa bahwa mereka mengikuti akun seorang ustaz, bukan influencer fitness. Tidak sedikit juga yang bertanya-tanya apakah konten gym ini merupakan bagian dari strategi personal branding yang baru atau sekadar hobi yang mulai mengambil alih fokus utamanya.
Fenomena ini sebenarnya mencerminkan dilema modern yang dihadapi banyak tokoh agama di era digital. Di satu sisi, memiliki platform media sosial yang besar adalah kesempatan emas untuk menyebarkan dakwah kepada audiens yang lebih luas. Di sisi lain, algoritma media sosial yang selalu mencari engagement tinggi terkadang mendorong konten yang lebih hiburatif dan personal daripada edukatif. Pertanyaan besar yang kemudian muncul adalah bagaimana seorang pemimpin spiritual seharusnya menyeimbangkan kehidupan pribadi mereka dengan tanggung jawab publik mereka sebagai ustaz yang diikuti oleh ribuan orang.
Kasus Ustaz Riza Muhammad ini juga membuka diskusi lebih luas tentang ekspektasi publik terhadap tokoh agama di media sosial. Sebagian masyarakat berpendapat bahwa seorang ustaz boleh saja memiliki hobi dan gaya hidup pribadi yang mereka bagikan, termasuk aktivitas fitness. Namun, sebagian lainnya merasa bahwa proporsi konten seharusnya tetap mengutamakan nilai-nilai spiritualnya. Perdebatan ini menunjukkan bahwa era digital telah mengubah cara publik memandang dan mengevaluasi tokoh-tokoh berpengaruh, termasuk mereka yang memiliki otoritas dalam bidang keagamaan.
What's Your Reaction?