Viral Drops Views hingga 85 Ribu, Influencer Duga Algoritma Instagram 'Bersikap Pilih-Pilih' Soal Konten Karhutla
Influencer Tasya Farasya melaporkan views Instagram Stories-nya turun dari 1 juta menjadi 85 ribu setelah membagikan konten karhutla. Komdigi membantah ada pembatasan konten, namun pertanyaan tentang tanggung jawab algoritma Instagram tetap menjadi perdebatan.
Reyben - Fenomena menurunnya jangkauan konten di Instagram kembali menjadi pembicaraan hangat setelah seorang influencer terkenal melaporkan penurunan drastis performa postingan mereka. Tasya Farasya, content creator dengan jutaan pengikut, mengungkapkan bahwa views Instagram Stories-nya anjlok dari sekitar 1 juta menjadi hanya 85 ribu dalam waktu singkat. Penurunan signifikan ini terjadi setelah dia membagikan konten terkait bencana karhutla—kebakaran hutan dan lahan yang menjadi isu lingkungan krusial di Indonesia.
Klaim influencer tersebut langsung memicu spekulasi di kalangan pengguna media sosial tentang kemungkinan shadowban atau pembatasan algoritma yang disengaja oleh Instagram. Shadowban sendiri adalah istilah untuk pembatasan jangkauan konten secara tersembunyi, dimana postingan tetap terlihat namun tidak muncul di lini masa atau eksplorasi pengguna lain. Masyarakat mulai bertanya-tanya, apakah platform besar tersebut memiliki mekanisme khusus yang membatasi konten tertentu, terutama yang berkaitan dengan isu-isu sosial dan lingkungan yang sensitif?
Merespons kekhawatiran yang berkembang, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Komdigi) langsung turun tangan untuk membantah rumor tersebut. Lembaga yang bertanggung jawab mengawasi komunikasi digital di Indonesia menyatakan dengan tegas bahwa pihaknya tidak melakukan pembatasan terhadap konten karhutla di Instagram atau platform media sosial lainnya. Komdigi menjelaskan bahwa penurunan jangkauan konten lebih sering disebabkan oleh mekanisme algoritma internal Instagram yang mengutamakan engagement rate, kualitas konten, dan perilaku pengguna daripada campur tangan eksternal dari pemerintah.
Namun, bantahan Komdigi tidak sepenuhnya menutup kemungkinan lain yang perlu diwaspadai. Para ahli digital dan analis media sosial menggarisbawahi bahwa Instagram sebagai perusahaan swasta Amerika memiliki kebebasan menjalankan algoritma sesuai kepentingan bisnis mereka. Beberapa peneliti menduga bahwa konten dengan nilai edukasi atau kepedulian sosial tinggi kadang kalah bersaing dengan konten entertainment yang menghasilkan engagement lebih cepat. Situasi ini menimbulkan pertanyaan lebih luas tentang tanggung jawab platform media sosial dalam menyebarkan informasi penting kepada publik. Kasus yang dialami Tasya Farasya menjadi reminder bagi semua kreator konten bahwa memahami mekanik algoritma digital sudah menjadi keharusan di era sekarang.
What's Your Reaction?