Vijay Prashad Peringatkan Indonesia: Jangan Jadi Boneka di Arena Geopolitik Dunia
Pemikir global Vijay Prashad mengingatkan Indonesia untuk berani mendekolonisasi diri dan mengambil posisi independen di tengah kompleksitas geopolitik global yang terus meningkat. Dekolonisasi menjadi kebutuhan strategis, bukan sekadar wacana ideologis.
Reyben - Pemikir besar dunia Vijay Prashad kembali mengingatkan Indonesia tentang pentingnya berdiri kokoh di tengah pusaran krisis global yang semakin memanas. Dalam pandangannya, negara kepulauan ini memiliki potensi besar untuk menjadi aktor independen, bukan sekadar penonton pasif dalam pertarungan kekuatan internasional yang semakin sengit. Pesan Prashad resonan di era ketika setiap negara dipaksa memilih sisi dalam kompetisi geopolitik yang tidak mengenal kompromi.
Prashad, yang dikenal melalui karya-karyanya yang tajam menganalisis kolonialisme dan imperialisme modern, melihat Indonesia berada di posisi krusial. Sebagai negara dengan populasi terbesar di Asia Tenggara dan pengaruh ekonomi signifikan, Indonesia memiliki leverage untuk menentukan nasibnya sendiri. Namun, kemampuan ini hanya bisa diwujudkan jika Jakarta berani melakukan dekolonisasi diri—membebaskan diri dari pola pikir yang masih terjebak dalam logika dominasi kekuatan besar. Dekolonisasi bukan sekadar slogan politis, melainkan kebutuhan strategis untuk survival nasional di dekade mendatang.
Krisis global yang berganda—mulai dari perang di Ukraina, ketegangan di Taiwan, hingga instabilitas ekonomi—menciptakan momentum kritis bagi negara berkembang untuk merumuskan strategi baru. Prashad mengamati bahwa banyak negara Selatan masih terperangah dalam pilihan dikotomis yang diajukan Barat dan sekutunya. Indonesia, menurutnya, harus keluar dari jebakan ini dengan mengembangkan visi alternatif yang berlandaskan kepentingan nasional sejati, bukan kepentingan blok manapun. Ini memerlukan keberanian intelektual dan kepemimpinan yang visioner, bukan taktik diplomasi yang mengambang tanpa arah.
Penekanan Prashad pada dekolonisasi juga merujuk pada transformasi ekonomi dan budaya yang mendalam. Selama ini, Indonesia masih mengikuti model pembangunan yang diimpor dari Barat tanpa penyesuaian kontekstual yang memadai. Mulai dari struktur pendidikan, sistem ekonomi, hingga narasi sejarah yang diajarkan—semuanya masih mencerminkan warisan kolonial yang belum sepenuhnya dipugar. Untuk benar-benar merdeka, Indonesia perlu melakukan introspeksi mendalam dan membangun institusi yang mencerminkan nilai-nilai lokal sambil tetap terbuka terhadap pengetahuan global.
Langkah konkret yang bisa dimulai Indonesia adalah dengan memperkuat posisi dalam organisasi multilateral seperti G20 dan ASEAN, serta mengembangkan hubungan bilateral yang lebih seimbang dengan berbagai negara. Bukan berarti Indonesia harus menjadi sekutu semua pihak secara bersamaan, melainkan menjadi partner yang tegas dalam negosiasi dan tidak mudah digoyahkan dengan ancaman atau janji-janji manis. Prashad yakin bahwa generasi baru pemimpin Indonesia memiliki kapasitas untuk melakukan transformasi ini, asalkan berani mengambil risiko intelektual dan diplomatik yang diperlukan.
Pesan dari intelektual progresif ini merupakan panggilan untuk Indonesia tidak hanya menjadi pemain pasif dalam dramaturgi dunia, melainkan menjadi pengarang nasib sendiri. Era di mana negara-negara Selatan bisa hidup dengan mengandalkan keberuntungan telah berlalu. Saatnya Indonesia menunjukkan kepada dunia bahwa kemerdekaannya bukan hanya sesuatu yang diraih di tahun 1945, melainkan sebuah proses berkelanjutan yang harus diperjuangkan di setiap lapis kehidupan nasional.
What's Your Reaction?