Survei Terbaru Ungkap: Asia Tenggara Mulai Berpaling ke China, Amerika Tergeser

Survei terbaru ISEAS-Yusof Ishak Institute mengungkapkan pergeseran preferensi strategis di Asia Tenggara. China kembali unggul menggeser Amerika dalam pilihan negara-negara kawasan di tengat intensitas persaingan dua державa adidaya.

Apr 24, 2026 - 14:47
Apr 24, 2026 - 14:47
 0  1
Survei Terbaru Ungkap: Asia Tenggara Mulai Berpaling ke China, Amerika Tergeser

Reyben - Belum lama ini, sebuah survei dari lembaga penelitian terkemuka ISEAS-Yusof Ishak Institute yang berbasis di Singapura merilis temuan mengejutkan. Data yang dikumpulkan pada awal bulan April menunjukkan sebuah pergeseran sentimen signifikan di kawasan Asia Tenggara. China, yang sebelumnya sempat kehilangan posisinya di hadapan Amerika Serikat pada tahun lalu, kini kembali naik menjadi pilihan utama negara-negara di region ini. Perubahan preferensi strategis ini mencerminkan dinamika geopolitik yang terus bergerak dalam percaturan global, khususnya di tengah intensitas persaingan antara dua державa adidaya yang semakin meningkat.

Hasil survei tersebut menjadi indikator penting tentang bagaimana persepsi publik dan eliter di Asia Tenggara bergeser mengikuti perkembangan situasi internasional. Momentum pemulihan posisi China ini tidak terlepas dari berbagai faktor strategis yang melingkupinya. Pertumbuhan ekonomi yang tetap kokoh, infrastruktur investasi yang gencar melalui inisiatif Belt and Road, serta pendekatan diplomasi yang lebih agresif di kawasan menjadi beberapa alasan mengapa negara-negara ASEAN kembali melihat China sebagai mitra yang lebih menguntungkan. Sementara itu, Amerika yang selama dekade terakhir mendominasi pengaruh regional, mengalami penurunan favorabilitas di mata sebagian besar negara-negara Asia Tenggara.

Konteks belakang dari perubahan ini cukup kompleks dan multidimensional. Kebijakan-kebijakan Amerika yang dianggap kurang konsisten, terutama dalam hal komitmen terhadap kawasan, turut mempengaruhi kalkulasi strategis negara-negara ASEAN. Sebaliknya, China hadir dengan proposisi nilai yang jelas: kemitraan ekonomi yang erat, investasi besar-besaran, dan pengaruh regional yang terukur. Meskipun tidak semua negara ASEAN sepenuhnya bersikap pro-China, namun tren umum menunjukkan peningkatan ketergantungan ekonomi dan diplomatik terhadap Beijing. Survei ISEAS ini mengkonfirmasi apa yang telah lama diamati oleh para pengamat geopolitik: pusat gravitasi hubungan internasional regional bergeser ke arah timur.

Di sisi lain, fenomena ini memunculkan pertanyaan krusial tentang masa depan keseimbangan kekuatan di Asia Pasifik. Jika tren ini berlanjut, Asia Tenggara mungkin akan semakin tegantung pada China dalam berbagai aspek kehidupan ekonomi dan sosial. Akan tetapi, negara-negara ASEAN juga menunjukkan kecanggihan diplomasi dengan tetap menjaga hubungan konstruktif dengan kedua kekuatan besar tersebut. Sikap hedging strategy yang mereka terapkan mencerminkan upaya untuk memanfaatkan persaingan dua kekuatan tersebut untuk kepentingan nasional masing-masing. Dekade mendatang akan menjadi penentang bagi apakah Asia Tenggara dapat mempertahankan otonomi dan keseimbangan dalam menghadapi tekanan geopolitik dari Washington dan Beijing.

Pengambilan keputusan strategis yang tepat menjadi imperatif bagi para pemimpin Asia Tenggara di masa transisi ini. Mereka harus mampu menelusuri tightrope antara manfaat ekonomi yang ditawarkan China dan komitmen keamanan yang dijanjikan Amerika. Survei ISEAS hanya memberikan snapshot dari sentimen saat ini, namun gambaran yang lebih lengkap akan terus berkembang seiring dengan dinamika geopolitik global yang terus berubah dengan cepat.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow