Radja Nainggolan Nyesel Tak Pilih Merah Putih: 'Jika Bisa Diulang, Saya Bela Indonesia'

Radja Nainggolan, mantan gelandang Timnas Belgia, mengungkapkan penyesalannya karena tidak memilih membela Timnas Indonesia saat masih aktif. Atlet keturunan Batak ini nyatakan bahwa jika waktu bisa diulang, keputusannya akan berbeda.

Oct 13, 2026 - 11:34
Oct 13, 2026 - 11:34
 0  4
Radja Nainggolan Nyesel Tak Pilih Merah Putih: 'Jika Bisa Diulang, Saya Bela Indonesia'

Reyben - Radja Nainggolan, pemain gelandang legendaris yang pernah meraih kesuksesan bersama Timnas Belgia, kini terbuka mengungkapkan penyesalan mendalam. Mantan pemain AS Roma ini menyatakan bahwa jika waktu bisa diputar kembali, dia akan mengambil keputusan berbeda dengan memilih membela Timnas Indonesia daripada Belgia. Pernyataan mengejutkan dari atlet keturunan Batak ini membuktikan bahwa kesuksesan internasional tidak selalu memberikan kepuasan hati yang utuh.

Ketika masih aktif bermain di level profesional tertinggi Eropa, Nainggolan memilih untuk bermain untuk Timnas Belgia, negara tempat dia tinggal. Pilihan tersebut mungkin terlihat logis pada saat itu, mengingat Belgia merupakan salah satu tim kuat di dunia. Namun, seiring berjalannya waktu dan karir mulai memasuki tahap akhir, si empunya badan menyadari bahwa ada yang hilang dari pencapaiannya. Hubungan emosional dengan tanah air asli orangtua, Indonesia, ternyata lebih dalam dari yang dia ekspektasikan.

Penyesalan Nainggolan mencerminkan dilema universal yang dihadapi banyak atlet dengan latar belakang imigran atau keturunan. Mereka harus memilih antara peluang karir yang lebih besar dengan representasi identitas budaya dan asal-usul keluarga. Dalam kasus Nainggolan, pilihan pragmatis untuk Belgia telah memberikan prestasi gemilang, namun kemudian memicu refleksi mendalam tentang makna sejati dari representasi nasional. Kehilangan kesempatan untuk membela warisan Indonesia menjadi titik regret yang terus menghantui pikirannya.

Kisah Nainggolan memberikan pelajaran berharga bagi generasi muda atlet Indonesia dengan kesempatan internasional. Keputusan memilih skuad nasional bukan hanya tentang kalkulasi peluang menang atau performa statistik semata. Ada dimensi lain yang lebih bermakna—tentang legacy, warisan budaya, dan kontribusi pada bangsa yang melahirkan. Pengakuan jujur dari pemain berkualitas tinggi ini menjadi motivasi tersendiri bagi Timnas Indonesia untuk terus berkembang dan menarik talenta-talenta terbaik.

Meskipun penyesalan Nainggolan tidak bisa mengubah sejarah, suara imajinasinya tentang "kalau saja" membuka percakapan menarik di komunitas olahraga tanah air. Banyak anak muda Indonesia yang memiliki potensi besar namun terombang-ambing memilih jalur karir internasional. Cerita penyesalan Nainggolan bisa menjadi cerminan bahwa kesuksesan sejati tidak semata diukur dari trofi dan rekor, melainkan juga dari makna personal dan kontribusi pada identitas nasional yang akan dikenang selamanya.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow