Perayaan Maulid Ricuh, Ledakan Petasan Sepanjang Malam Bikin Warga Jaksel Setengah Gila

Perayaan Maulid Nabi di Jalan Keramat 2, Pondok Pinang, Jaksel, menjadi kontroversi setelah ledakan petasan terus-menerus selama satu jam hingga dini hari, membuat warga marah dan polisi pun turun tangan.

Oct 5, 2026 - 20:48
Oct 5, 2026 - 20:48
 0  4
Perayaan Maulid Ricuh, Ledakan Petasan Sepanjang Malam Bikin Warga Jaksel Setengah Gila

Reyben - Perayaan Maulid Nabi Muhammad di kawasan Pondok Pinang, Jakarta Selatan, menciptakan kekacauan yang tidak terduga. Warga sekitar Jalan Keramat 2 terpaksa merelakan tidur nyenyak mereka karena suara ledakan petasan dan kembang api yang terus-menerus bergema dari sekitar pukul malam hingga dini hari. Insiden ini memicu keresahan dan keluhan masif dari masyarakat yang merasa haknya atas istirahat telah dilanggar demi meriah-meriahannya perayaan keagamaan tersebut.

Menurut laporan dari warga, ledakan petasan tidak hanya sekadar ditampilkan dalam beberapa menit atau puluhan menit saja. Melainkan, suara dentuman keras itu terus bergema selama kurang lebih satu jam penuh, membuat suasana malam di permukiman tersebut menjadi sangat gaduh dan tidak nyaman. Bayi-bayi menangis ketakutan, anak-anak tersentak dari tidur mereka, sementara orang tua dan lansia pun merasakan stres akibat ledakan yang beruntun-untun tersebut. Ketidaknyamanan ini akhirnya mendorong sejumlah warga untuk mengambil langkah mengadukan persoalan ini kepada pihak yang berwenang.

Menanggapi protes keras dari masyarakat setempat, kepolisian tidak bisa diam dan langsung turun tangan untuk mengatasi situasi yang sudah di luar batas kewajaran ini. Petugas polisi datang ke lokasi untuk meminta agar pihak penyelenggara perayaan Maulid menghentikan penggunaan petasan dan kembang api yang telah mengganggu ketenangan warga. Dialog yang dilakukan antara polisi dan penyelenggara acara ini menjadi momentum penting untuk mengingatkan pentingnya mempertimbangkan dampak dari kegiatan perayaan terhadap lingkungan sekitar, khususnya kenyamanan dan kesehatan warga lain.

Kasus ini kembali mengingatkan kita bahwa setiap perayaan, meski memiliki makna spiritual yang penting, tetap harus dilaksanakan dengan mempertimbangkan norma-norma sosial dan peraturan yang berlaku di masyarakat. Penggunaan petasan dan kembang api dalam jumlah berlebihan dan durasi yang lama memang dapat menciptakan gangguan lingkungan yang signifikan. Oleh karena itu, masyarakat yang ingin merayakan momen penting dengan cara yang ramai disarankan untuk lebih bijak dalam memilih metode perayaan dan waktu yang tepat, sehingga tidak mengorbankan kenyamanan sesama warga yang mungkin memiliki kebutuhan istirahat atau kondisi kesehatan khusus.

Pihak kepolisian telah memberikan arahan tegas kepada penyelenggara acara Maulid di Pondok Pinang agar tidak mengulangi insiden serupa di masa depan. Mereka juga menegaskan bahwa ada regulasi yang mengatur penggunaan petasan dan kembang api di wilayah perkotaan, terutama pada waktu-waktu yang dianggap jam istirahat masyarakat umum. Dengan tegas, polisi menyampaikan bahwa pelanggaran terhadap ketentuan ini dapat dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan daerah yang berlaku.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow