Panglima Jilah Buka Suara: Ladang Adat Bukan Dalang Utama Kebakaran Hutan Kalimantan

Panglima Jilah membantah keras bahwa praktik berladang masyarakat adat adalah penyebab utama kebakaran hutan di Kalimantan. Menurutnya, tradisi berladang yang telah dilakukan ribuan tahun lalu justru memiliki sistem pengendalian api yang lebih baik dan berkelanjutan dibanding aktivitas industri modern.

Aug 28, 2026 - 22:14
Aug 28, 2026 - 22:14
 0  2
Panglima Jilah Buka Suara: Ladang Adat Bukan Dalang Utama Kebakaran Hutan Kalimantan

Reyben - Panglima Jilah, tokoh masyarakat adat yang dikenal vokal dalam memperjuangkan hak-hak tradisional, kembali mengangkat isu sensitif tentang penyebab kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap melanda Kalimantan. Dalam pernyataannya yang tegas, Panglima Jilah membantah keras anggapan umum yang menunjuk praktik berladang sebagai biang kerok dari bencana kebakaran masif yang telah menghanguskan ribuan hektar hutan tropis. Menurut Panglima Jilah, stigma negatif terhadap sistem pertanian tradisional ini justru menyembunyikan pelaku utama yang sesungguhnya bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan yang massif.

Tradisi berladang yang telah menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat adat Kalimantan telah berlangsung selama ribuan tahun lamanya, jauh sebelum perusahaan-perusahaan besar hadir dan menguasai lahan-lahan di pulau tersebut. Panglima Jilah menekankan bahwa sistem pertanian rotasi tradisional ini justru dirancang dengan pengetahuan ekologis mendalam yang memastikan kelestarian hutan. Praktik pembukaan lahan dengan api yang dilakukan masyarakat adat dilakukan dalam skala kecil, terkontrol, dan dengan kalkulasi matang untuk mencegah api merambat ke wilayah yang tidak diinginkan. Berbeda dengan narasi yang sering dikemukakan oleh berbagai pihak, tradisi berladang justru memiliki mekanisme pengendalian api yang jauh lebih baik dibanding aktivitas industri modern.

Panglima Jilah mengkritik keras bagaimana narasi populer sengaja menggeser fokus perhatian publik dari aktor-aktor korporat yang memiliki jejak karbon dan kerusakan lingkungan jauh lebih besar. Perkebunan skala besar, penebangan liar, dan pembangunan infrastruktur tanpa izin lingkungan justru menjadi faktor-faktor dominan yang mengubah lanskap hutan Kalimantan menjadi lahan tandus. Dengan menyalahkan praktik tradisional masyarakat adat, kata Panglima Jilah, pihak-pihak tertentu seolah mencari kambing hitam untuk mengalihkan perhatian dari pertanggungjawaban industri yang sebenarnya. Strategi komunikasi semacam ini tidak hanya tidak adil tetapi juga memberikan dampak sosial yang merugikan komunitas adat yang justru menjadi pelindung hutan selama berabad-abad.

Panglima Jilah kemudian menekankan pentingnya penelitian mendalam dan audit transparan untuk mengidentifikasi penyebab sesungguhnya dari kebakaran hutan yang berulang kali terjadi di Kalimantan. Data faktual menunjukkan bahwa sebagian besar hotspot api terdeteksi justru berada di kawasan konsesi perusahaan dan lahan yang sudah dibuka untuk perkebunan, bukan di area berladang tradisional masyarakat adat. Panglima Jilah mengajak pemerintah, media massa, dan masyarakat luas untuk tidak lagi tertipu oleh narasi yang menyederhanakan masalah kompleks ini. Melindungi hutan Kalimantan, katanya, harus dimulai dari pengakuan akan peran penting masyarakat adat dan sistem pertanian tradisional mereka yang telah terbukti sustainable selama ribuan tahun.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow