Guru SD Ungkap Kisah Kelam Al Ghazali dan El Rumi: Tekanan Psikis Anak dari Perselisihan Orang Tua

Mantan guru sekolah dasar Al Ghazali dan El Rumi membongkar kondisi psikologis kedua anak saat menjalani konflik orang tua, termasuk gejala depresi dan kesulitan berkonsentrasi di sekolah.

May 9, 2026 - 05:14
May 9, 2026 - 05:14
 0  0
Guru SD Ungkap Kisah Kelam Al Ghazali dan El Rumi: Tekanan Psikis Anak dari Perselisihan Orang Tua

Reyben - Sidang cerai Clara Shinta kembali menjadi sorotan publik setelah seorang mantan guru sekolah dasar mereka membongkar kondisi psikologis kedua anak tersebut selama masa kecil. Pengungkapan ini menjadi potret yang menyayat hati tentang dampak nyata dari konflik rumah tangga terhadap perkembangan emosional anak-anak.

Mantan pendidik yang mengajar Al Ghazali dan El Rumi di bangku sekolah dasar mengungkapkan bahwa kedua siswa tersebut menunjukkan gejala-gejala tekanan psikis yang signifikan. Dari observasi di kelas, terlihat bahwa mereka sering murung, kesulitan berkonsentrasi dalam pembelajaran, dan cenderung menyendiri dari teman-teman sebayanya. Guru ini mengatakan bahwa perubahan perilaku kedua anak tersebut semakin terlihat jelas sejak orang tua mereka mulai sering berselisih.

Menurut penuturan guru tersebut, Al Ghazali dan El Rumi sering datang ke sekolah dengan mata yang bengkak karena menangis. Mereka juga kerap berbicara tentang kekhawatiran mereka mengenai kondisi keluarga, menanyakan kepada guru apakah orang tua mereka akan tetap bersama. Situasi ini menciptakan beban emosional yang berat bagi anak-anak yang seharusnya masih fokus pada pertumbuhan dan pembelajaran mereka di usia yang masih sangat muda.

Pengalaman Al Ghazali dan El Rumi menggarisbawahi pentingnya kesadaran orang tua tentang dampak jangka panjang dari konflik rumah tangga. Psikolog anak menjelaskan bahwa stres yang dialami anak-anak dalam situasi seperti ini dapat mempengaruhi prestasi akademis, kesehatan mental, dan pola hubungan sosial mereka di masa depan. Kesaksian guru tersebut mengingatkan kita semua bahwa di balik berita sensasional tentang perceraian selebriti, ada anak-anak nyata yang sedang berjuang dengan emosi mereka yang belum matang.

Kejadian ini memicu diskusi lebih luas di masyarakat tentang tanggung jawab orang tua dalam menjaga kesejahteraan psikologis anak saat menghadapi krisis perkawinan. Meskipun perceraian terkadang menjadi pilihan terbaik untuk kedewasaan diri sendiri, para ahli menekankan bahwa proses tersebut harus dilakukan dengan sensitivitas tinggi terhadap kebutuhan emosional anak. Dukungan profesional dari psikolog atau konselor keluarga dapat membantu anak-anak melewati fase transisi ini dengan trauma yang lebih minimal.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow