DME Batubara Ancam Target Iklim Indonesia? Ahli Ingatkan Pentingnya Teknologi CCUS

Pengembangan DME batubara disorot karena risiko menambah emisi tanpa teknologi CCUS. Para ahli menekankan pentingnya integrasi teknologi penangkapan karbon untuk memastikan transisi energi Indonesia sejalan dengan target penurunan emisi global.

May 6, 2026 - 07:19
May 6, 2026 - 07:19
 0  0
DME Batubara Ancam Target Iklim Indonesia? Ahli Ingatkan Pentingnya Teknologi CCUS

Reyben - Polemik energi alternatif kembali mencuat di Indonesia. Kali ini, sorotan tertuju pada Dimethyl Ether (DME) yang digadang-gadang menjadi pengganti Liquified Petroleum Gas (LPG). Meskipun menjanjikan sebagai bahan bakar ramah lingkungan, para pengamat energi dan iklim memberikan catatan serius: pengembangan DME berbasis batubara tanpa teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) justru berisiko meningkatkan emisi karbon nasional.

Para ahli menyoroti bahwa meski DME memiliki potensi sebagai energi terbarukan, cara produksinya dari batu bara konvensional menjadi pertanyaan besar. "Jika kita hanya menggeser sumber energi dari LPG ke DME batubara tanpa mengurangi jejak karbon di proses produksi, target penurunan emisi Indonesia bisa terganggu," ujar salah satu pengamat industri energi. Hal ini sejalan dengan komitmen pemerintah untuk mencapai net-zero emissions pada 2060 dan target intermediate sebesar 43 persen pengurangan emisi pada 2030.

Teknologi CCUS menjadi kunci untuk membuat DME batubara viable dalam perspektif iklim global. Teknologi ini memungkinkan karbon dioksida yang dihasilkan dari proses produksi DME untuk ditangkap, dimanfaatkan, atau disimpan secara permanen sehingga tidak masuk ke atmosfer. Namun, implementasi CCUS di Indonesia masih berada di fase pengembangan dan memerlukan investasi besar. "Kita tidak bisa semata-mata mengandalkan DME sebagai solusi energi jika belum memiliki infrastruktur CCUS yang kuat. Ini adalah pekerjaan rumah yang urgent," tambah pengamat lainnya.

Lanskap energi Indonesia memang sedang di persimpangan jalan. Di satu sisi, pemerintah perlu menjamin keterjangkauan energi untuk masyarakat dan industri. Di sisi lain, komitmen iklim global menuntut akselerasi transisi energi yang terukur dan berkelanjutan. DME batubara bisa menjadi bagian dari solusi, namun hanya jika didukung oleh ekosistem teknologi yang matang. Stakeholder, dari pemerintah hingga swasta, harus bergerak cepat dalam mengintegrasikan CCUS ke dalam roadmap pengembangan DME agar tidak menjadi "energi pengakhir" yang malah memperpanjang ketergantungan pada batubara.

Momenin ini adalah kesempatan emas bagi Indonesia untuk menunjukkan kepemimpinan dalam menggabungkan kebutuhan energi dengan tanggung jawab iklim. Tanpa akselerasi teknologi CCUS dan regulasi yang ketat, DME berpotensi menjadi cerita sukses yang terselubung di balik krisis iklim yang terus menggerogoti planet kita.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow