Bahlil Pertahankan Posisi: Ambang Batas 5% Persen Masih Jadi Standar Ideal untuk Parlemen

Bahlil Lahadalia dari Partai Golkar tetap yakin bahwa ambang batas parlemen 5 persen adalah standar paling ideal untuk filter partai yang layak duduk di DPR, dengan alasan menciptai keseimbangan antara efektivitas dan inklusi.

Sep 18, 2026 - 02:16
Sep 18, 2026 - 02:16
 0  8
Bahlil Pertahankan Posisi: Ambang Batas 5% Persen Masih Jadi Standar Ideal untuk Parlemen

Reyben - Bahlil Lahadalia, Ketua Umum DPP Partai Golkar, terus mempertahankan pandangannya bahwa ambang batas parlemen (parliamentary threshold) sebesar lima persen adalah standar paling ideal bagi sebuah partai untuk bisa duduk di kursi DPR. Posisi ini disampaikan Bahlil dalam merespons terus bergulirnya diskusi publik mengenai ketentuan parliamentary threshold yang menjadi salah satu mekanisme penting dalam sistem ketatanegaraan Indonesia.

Menurut Bahlil, penetapan ambang batas sebesar lima persen telah terbukti efektif dalam menjaga stabilitas sistem multipartai Indonesia. Menurutnya, angka tersebut mampu menyaring partai-partai yang benar-benar memiliki basis massa dan dukungan nasional yang signifikan. "Dengan ambang batas lima persen, kita bisa memastikan bahwa hanya partai-partai yang viable dan punya legitimasi nyata dari rakyat yang bisa masuk ke parlemen," ungkap Bahlil saat ditemui wartawan. Ia percaya bahwa standar ini cukup ketat tanpa harus mengorbankan keanekaragaman representasi di DPR.

Ketentuan parliamentary threshold sendiri memiliki peran krusial dalam lanskap perpolitikan nasional. Aturan ini berfungsi sebagai filter untuk mencegah fragmentasi partai yang berlebihan, yang bisa mengakibatkan parlemen menjadi tidak efektif dan produktif dalam menjalankan fungsinya. Bahlil menjelaskan bahwa lima persen adalah titik keseimbangan yang tepat antara efektivitas dan inklusi. "Kalau terlalu tinggi, partai-partai kecil dengan basis lokal kuat jadi terabaikan. Kalau terlalu rendah, parlemen jadi berantakan dengan terlalu banyak suara yang saling bertabrakan," tegasnya.

Pandangan Bahlil ini sejalan dengan pengalaman praktis yang telah dijalani Golkar selama berkecimpung dalam sistem politik Indonesia. Partai yang pernah menjadi mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia di era Orde Baru ini memiliki track record panjang dalam memahami dinamika perpolitikan nasional. Bahlil melihat bahwa ambang batas lima persen telah menghasilkan komposisi parlemen yang seimbang, di mana partai-partai besar tetap dominan namun partai-partai menengah masih punya ruang untuk berkontribusi.

Ada pula kalkulasi strategis di balik posisi Bahlil ini. Sebagai partai yang secara konsisten meraih suara dalam jumlah besar, Golkar tentunya mendukung sistem yang memungkinkan partai-partai dengan masa depan cerah untuk tetap eksis. Namun, Bahlil menekankan bahwa pandangannya bukan semata kepentingan partai, melainkan demi kesehatan demokrasi Indonesia. "Kita harus berpikir jangka panjang tentang institusi, bukan hanya soal keuntungan jangka pendek," tuturnya.

Perbincangan tentang parliamentary threshold ini memang relevan mengingat terus berkembangnya dinamika partai politik Indonesia. Sejumlah partai baru silih berganti bermunculan, sementara beberapa partai lama mengalami fluktuasi dukungan pemilih. Dalam konteks ini, penetapan ambang batas menjadi instrumen regulasi yang penting untuk menjaga ketertiban sistem. Bahlil percaya bahwa lima persen adalah angka yang tidak perlu diubah dalam waktu dekat, mengingat sudah menciptakan ekosistem perpolitikan yang relatif sehat.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow