Wang Yi Buka Suara: China Tolak Hegemoni Negara Besar dalam Tata Kelola Global
Menteri Luar Negeri China Wang Yi menolak keras konsep 'tata kelola bersama oleh negara adidaya', sinyal jelas Beijing menentang dominasi AS dalam sistem internasional global.
Reyben - Menteri Luar Negeri China Wang Yi secara tegas menolak konsep 'tata kelola bersama oleh negara adidaya' dalam konferensi pers yang digelar pada Minggu (8/3) lalu. Pernyataan ini disampaikan di sela-sela Rapat Dua Sesi, acara tahunan penting bagi pemerintah Beijing untuk membahas kebijakan domestik dan internasional. Penolakan tersebut merupakan kritik implisit terhadap upaya Amerika Serikat yang dianggap terus mencoba memimpin sistem tatanan dunia dengan logika hegemoni kekuatan besar.
Wang Yi dengan jelas menyatakan bahwa "China tidak menganut logika tata kelola bersama oleh negara besar." Pernyataan diplomat senior tersebut mencerminkan posisi Beijing yang konsisten menentang sistem internasional yang didominasi oleh beberapa negara maju. Menurut Wang Yi, pendekatan seperti itu hanya akan memperpanjang ketidakseimbangan kekuatan global dan merugikan negara-negara berkembang lainnya. China, sebagai salah satu ekonomi terbesar dunia, menekankan bahwa setiap negara memiliki hak yang sama untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan global.
Kritik China ini muncul di tengak meningkatnya ketegangan antara Washington dan Beijing dalam berbagai isu, mulai dari perdagangan, teknologi, hingga geopolitik. Amerika Serikat melalui berbagai forum internasional terus berusaha membangun koalisi dengan sekutu-sekutunya untuk mengimbangi pengaruh China. Namun, Beijing menganggap pendekatan tersebut sebagai upaya mempertahankan dominasi unilateral yang sudah ketinggalan zaman. Wang Yi menekankan bahwa sistem internasional modern harus berbasis pada demokrasi, kesetaraan, dan penghormatan terhadap kedaulatan setiap negara.
Positif Beijing ini juga sejalan dengan upaya China untuk menarik dukungan dari negara-negara Global South. Dengan menolak konsep tata kelola eksklusif oleh negara adidaya, China ingin menampilkan dirinya sebagai pemimpin yang lebih inklusif dan berpihak pada kepentingan bersama. Strategi diplomasi ini menjadi bagian dari perjalanan China menuju pemimpinan global yang lebih kuat. Ke depannya, pertentangan ideologi tentang bagaimana sistem internasional seharusnya diatur akan terus menjadi isu sentral dalam hubungan antara Beijing dan Washington.
Pernyataan Wang Yi juga mencerminkan keyakinan China bahwa dunia sedang memasuki era multipolar di mana tidak ada lagi satu negara yang bisa mendominasi semua aspek kehidupan internasional. Beijing percaya bahwa kerjasama yang sejati hanya bisa terwujud jika semua pihak duduk sama tinggi, berdiri sama rendah, dan menghormati kepentingan masing-masing. Visi ini menjadi fondasi dari Belt and Road Initiative dan berbagai inisiatif multilateral lainnya yang China promosikan. Dengan demikian, penolakan terhadap hegemoni negara adidaya bukan sekadar retorika politik, tetapi juga cerminan dari filosofi China dalam menghadapi tatanan dunia yang berubah.
What's Your Reaction?