Tasya Farasya Bongkar Penurunan Drastis Viewers hingga Shadow Ban Setelah Posting tentang Karhutla
Tasya Farasya membuka mata publik tentang dugaan shadow ban di Instagram setelah memposting konten seputar karhutla. Ustaz Adi Hidayat juga melaporkan pengalaman serupa, memicu pertanyaan tentang kebijakan platform terhadap konten isu sosial.
Reyben - Kreator konten Tasya Farasya kembali menjadi sorotan publik setelah mengungkapkan penurunan signifikan jumlah penonton di Instagram Story-nya. Dalam unggahan terbaru, perempuan yang dikenal dengan konten lifestyle ini membandingkan statistik viewers sebelum dan sesudah membagikan konten terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Data yang ditampilkan Tasya menunjukkan perbedaan yang sangat mencolok, memicu spekulasi tentang kemungkinan shadow ban dari platform media sosial tersebut.
Fenomena yang dialami Tasya ini bukan merupakan kasus terisolasi. Ustaz Adi Hidayat, seorang tokoh agama yang dikenal vokal terhadap isu sosial, juga melaporkan pengalaman serupa. Setelah berbagi suara soal karhutla dan isu-isu lingkungan yang sedang menjadi perhatian publik, jangkauan konten Ustaz Adi mengalami penurunan drastis. Kedua content creator ini menjadi bagian dari narasi yang semakin menguat tentang kemungkinan pembatasan algoritma Instagram terhadap konten tertentu.
Shadow ban, atau pembatasan tersembunyi, merupakan praktik yang dilakukan platform untuk membatasi visibilitas konten tanpa memberitahu pengguna secara eksplisit. Meskipun Instagram (Meta) belum pernah secara resmi mengakui keberadaan shadow ban, banyak pengguna melaporkan fenomena serupa ketika membagikan konten yang dianggap sensitif atau kontroversial. Dalam konteks karhutla, yang merupakan isu lingkungan dan potensial bernuansa politis, spekulasi tentang shadow ban semakin menguat di kalangan netizen.
Tasya Farasya, yang memiliki jutaan pengikut, tidak sekadar mengeluhkan tetapi juga memicu percakapan lebih luas tentang kebebasan berekspresi di platform digital. Langkah transparency yang diambilnya dengan membagikan data perbandingan menjadi semacam bukti nyata yang bisa dilihat followers-nya. Hal ini menciptakan momentum bagi diskusi publik tentang bagaimana algoritma media sosial bekerja dan apakah ada bias dalam penentuan konten mana yang dipromosikan dan mana yang diredam.
Para ahli dan observer digital mulai mempertanyakan konsistensi kebijakan Meta dalam menangani konten isu sosial dan lingkungan. Beberapa mengkhawatirkan bahwa jika content creator besar seperti Tasya Farasya dan Ustaz Adi Hidayat mengalami pembatasan, bagaimana dengan suara-suara yang lebih kecil dan kurang berpengaruh? Pertanyaan ini mengarah pada refleksi lebih dalam tentang peran platform media sosial dalam membentuk narasi publik dan apakah ada intervensi yang tidak terlihat dalam proses distribusi informasi.
Dampak dari shadow ban ini juga terasa pada efektivitas awareness campaign terkait karhutla. Jika konten edukasi dan kesadaran lingkungan dikurangi jangkauannya secara sistematis, maka publik akan mendapatkan informasi yang tidak seimbang. Ini membuka pertanyaan baru tentang tanggung jawab platform dalam menyebarkan informasi yang penting bagi kepentingan publik, termasuk isu-isu lingkungan yang kritikal.
What's Your Reaction?