Target Rp165 Triliun Menanti: Bagaimana ESDM Bisa Lampaui Realisasi Rp127 Triliun?
Menko Bahlil yakin sektor ESDM bisa menyumbang Rp165 triliun pada 2026. Dengan realisasi Rp127,71 triliun hingga September, target tersebut terlihat realistis jika momentum batu bara dan hilirisasi terus terjaga.
Reyben - Menko Ekonomi Bahlil Lahadalia kembali memantaskan optimismenya terhadap sektor energi, sumber daya alam, dan mineral (ESDM). Pria yang akrab disapa Bahlil ini menargetkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor strategis tersebut mampu mencapai angka fantastis Rp165 triliun pada tahun 2026. Angka ini bukan sekadar mimpi di langit, mengingat hingga bulan September tahun ini saja, realisasi penerimaan sudah melampaui Rp127,71 triliun. Artinya, hanya tinggal menambah sekitar Rp37 triliun lagi untuk menyentuh target ambisius yang telah ditetapkan.
Pencapaian yang sudah terwujud hingga pertengahan tahun ini menunjukkan bahwa sektor ESDM masih memiliki momentum kuat untuk terus berkontribusi bagi kas negara. Kontribusi terbesar datang dari dua pilar utama ekonomi ekstraktif Indonesia, yakni batu bara dan hilirisasi. Kedua sektor ini telah membuktikan ketangguhan mereka dalam menghasilkan revenue yang signifikan, bahkan di tengat ketidakpastian pasar global. Bahlil tampaknya memahami dengan matang bahwa kombinasi ekspor komoditas primer dan pengembangan rantai nilai tambah adalah formula yang tepat untuk terus meningkatkan PNBP sektor ESDM.
Pada dasarnya, strategi Bahlil mencerminkan komitmen pemerintah untuk mengoptimalkan sumber daya alam yang melimpah tanpa hanya mengandalkan ekspor mentah. Hilirisasi, yang merupakan proses pengolahan lebih lanjut dari bahan baku, menjadi kunci untuk meningkatkan nilai tambah dan otomatis meningkatkan penerimaan negara. Dengan terus mendorong industrialisasi di sektor mineral dan energi, pemerintah berharap bisa menarik investasi lebih besar dan menciptakan lapangan kerja berkualitas. Strategi ini juga sejalan dengan visi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada ekspor komoditas mentah yang rentan terhadap fluktuasi harga global.
Melihat trajectory yang ada, target Rp165 triliun untuk 2026 kelihatannya masih realistis untuk dicapai, terutama jika momentum positif terus terjaga. Bahlil akan perlu memastikan bahwa regulasi yang mendukung, infrastruktur yang memadai, dan kepastian hukum bagi investor tetap menjadi prioritas. Tantangan yang ada adalah menjaga stabilitas penerimaan batu bara sambil secara bersamaan mengakselerasi proyek-proyek hilirisasi yang masih membutuhkan waktu untuk mencapai kapasitas produksi optimal. Ketika semua faktor ini berjalan selaras, pencapaian target bukan lagi harapan kosong, melainkan suatu realitas yang sangat mungkin terwujud di kuartal-kuartal mendatang.
What's Your Reaction?