Sepi Order, Driver Ojol Malang Pasrah Tunggu Komitmen Potongan Komisi 8 Persen

Driver ojol Malang terus menunggu realisasi janji potongan komisi 8 persen sambil menghadapi sepinya order. Kondisi finansial mereka semakin terpuruk dengan komisi tinggi dan earning yang terus menurun setiap bulannya.

Jun 17, 2026 - 17:49
Jun 17, 2026 - 17:49
 0  0
Sepi Order, Driver Ojol Malang Pasrah Tunggu Komitmen Potongan Komisi 8 Persen

Reyben - Kota Malang kembali menjadi sorotan terkait kondisi para pengemudi aplikasi ojek online (ojol) yang terus berjuang menghadapi lesunya orderan. Meski perusahaan pernah berjanji akan memotong tarif komisi hingga 8 persen, harapan tersebut belum juga terwujud. Para driver terpaksa terus bertahan dengan sistem komisi yang masih memberatkan kantong, sementara order yang masuk makin menipis setiap harinya.

Salah satu pengemudi ojol bernama Budi, yang telah tiga tahun menjalankan profesi ini, mengungkapkan frustrasinya. Setiap hari dia bangun pukul lima pagi untuk memulai operasional, namun penghasilan yang didapat jauh dari ekspektasi. "Bulan lalu saya cuma dapat Rp 1,5 juta dari order penumpang dan barang. Padahal bensin, makan, dan biaya operasional lainnya butuh Rp 2 juta," cerita Budi sambil mengelus wajahnya yang terlihat lelah. Kondisi seperti ini bukan hanya dialami Budi. Puluhan driver lainnya di Malang menghadapi nasib serupa, bahkan ada yang mengambil alih profesi sambilan untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

Perusahaan ojol sempat memberikan sinyal positif dengan mengumumkan rencana penurunan komisi sebesar 8 persen. Janji ini dianggap sebagai angin segar bagi komunitas driver yang sudah merasa terbebani dengan struktur biaya yang tidak seimbang dengan pendapatan. Namun hingga berbulan-bulan kemudian, komitmen tersebut masih menggantung di udara tanpa ada kepastian implementasi. Para driver yang awalnya optimis perlahan mulai kehilangan harapan dan menganggapnya hanya sebagai janji hampa untuk meredam protes.

Di lapangan, dampak sepinya order sangat terasa. Beberapa driver mulai mencari alternatif penghasilan sambilan, ada yang berjualan makanan online, ada yang menjual pulsa, bahkan ada yang kembali mengandalkan pekerjaan informal lainnya. Situasi ini menciptakan dilema tersendiri karena mereka terjebak dalam ekosistem aplikasi yang sulit untuk ditinggalkan, namun juga tidak memberikan jaminan penghasilan yang memadai. Komisi yang tinggi dikombinasikan dengan order yang sedikit menjadi formula sempurna untuk kemiskinan digital.

Komunitas driver ojol Malang telah beberapa kali mengadakan pertemuan untuk membahas masalah ini. Mereka mendesak perusahaan untuk segera merealisasikan janji potongan komisi dan juga memperhatikan supply-demand order yang terlalu banyak penawaran pengemudi dibanding permintaan. Beberapa suara juga menyuarakan perlunya regulasi dari pemerintah kota untuk melindungi hak-hak pekerja di sektor ekonomi digital yang masih terasa seperti rimba tanpa hukum. Sementara itu, penunggu janji masih berlanjut tanpa ada kepastian akhir.

Kondisi driver ojol Malang menjadi cerminan dari problematika yang dihadapi ribuan pengemudi aplikasi di seluruh Indonesia. Pertumbuhan industri ini yang super cepat tidak diimbangi dengan perlindungan dan kesejahteraan pekerja yang memadai. Jika janji-janji terus diulur-ulur tanpa realisasi, bukan tidak mungkin akan terjadi akumulasi kekecewaan yang pada akhirnya akan meledak dalam bentuk aksi masif dari komunitas driver.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow