SBY Lantang Suarakan Alarm Harga BBM, Desak Prabowo Jangan Biarkan Rakyat Sengsara
SBY mengirim peringatan darurat kepada Presiden Prabowo terkait kenaikan harga Pertamax, menekankan pentingnya perlindungan terhadap rakyat yang rentan terdampak dari lonjakan harga energi.
Reyben - Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memecah keheningan dengan peringatan tajam di media sosialnya terkait lonjakan harga Pertamax yang mulai menyentuh kantong masyarakat. Mantan presiden yang pernah memimpin bangsa selama dua periode ini tidak sekedar memberikan kritik biasa, melainkan mengirimkan sinyal darurat yang meminta perhatian khusus dari Presiden Prabowo Subianto. Dalam postingannya, SBY menekankan bahwa kenaikan harga bahan bakar premium bukan sekadar masalah ekonomi teknis, tetapi isu kemanusiaan yang membutuhkan respons cepat dan tepat dari pemerintah pusat.
Kesadaran SBY akan dampak sosial dari kenaikan energi tercermin dari tone urgensinya yang berbeda dari kritik-kritik sebelumnya. Ia tidak berbicara dalam bahasa ekonomi makro yang abstrak, melainkan menyentuh realitas rakyat kecil yang setiap hari bergantung pada stabilitas harga bahan bakar untuk menjalankan aktivitas ekonomi mereka. Dari sopir ojol hingga pengusaha transportasi, dari pedagang kecil hingga petani yang membutuhkan solar untuk pertanian, semua tergoyahkan dengan kebijakan yang tidak diimbangi perlindungan sosial. SBY seperti membuka mata publik bahwa ada celah serius dalam strategi pemerintah saat ini dalam mengelola sektor energi yang sangat sensitif.
Permintaan SBY kepada Prabowo bukan sekadar himbauan informal. Ada pesan implisit bahwa sebagai pemimpin negara yang baru saja dilantik, Prabowo memiliki tanggung jawab moral untuk melindungi daya beli rakyat dari guncangan harga eksternal dan internal. SBY mengingatkan bahwa setiap kebijakan energi yang tidak terukur dampak sosialnya akan menjadi beban tambahan bagi lapisan masyarakat menengah ke bawah yang sudah terbebani inflasi dan berbagai tekanan ekonomi lainnya. Warisan kepemimpinan yang ingin SBY amankan adalah bagaimana pemerintah mampu menjalankan roda ekonomi tanpa mengorbankan kesejahteraan basic dari rakyatnya.
Langkah SBY mengkritik melalui platform digital menunjukkan bahwa figur senior dalam perpolitikan nasional masih merasa perlu mengambil peran sebagai penjaga kemanusiaan. Dalam era di mana kenaikan harga BBM sering dikaitkan dengan narasi reformasi dan efisiensi subsidi, suara SBY menjadi pengingat penting bahwa reformasi ekonomi tetap harus memiliki wajah manusiawi. Pemerintahan Prabowo, yang masih dalam fase awal menjalankan agendanya, kini dihadapkan pada uji coba nyata: apakah mampu menyeimbangkan antara disiplin fiskal dengan perlindungan sosial nyata kepada masyarakat yang paling rentan terdampak dari setiap fluktuasi harga energi di pasar global.
What's Your Reaction?