Saat Bencana Datang, Satwa Liar Butuh Penyelamat: Akademisi Minta Komando Terpusat dari Pemerintah
Para akademisi menuntut pemerintah pusat mengambil komando dalam penanganan satwa ketika bencana besar seperti kebakaran hutan terjadi. Sistem yang terkoordinasi dan protokol standar dinilai sangat diperlukan untuk menyelamatkan fauna dari kepungan bencana.
Reyben - Ketika api membara membakar hutan dan lahan, manusia berlarian menyelamatkan diri. Tapi siapa yang menyelamatkan satwa liar yang terperangkap dalam kepungan asap dan api? Itulah pertanyaan yang kini mendesak akademisi untuk menggugat pemerintah pusat agar mengambil peran lebih besar dalam penanganan satwa saat terjadi bencana alam berskala besar seperti kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Mereka melihat adanya kekosongan koordinasi yang berpotensi meninggalkan ribuan makhluk hidup tanpa penyelamatan yang terstruktur.
Melalui berbagai kajian akademis, para ahli dari universitas terkemuka menekankan bahwa penanganan satwa ketika bencana terjadi tidak boleh dianggap sebagai prioritas kedua atau bahkan diabaikan sama sekali. "Kami memiliki protokol khusus untuk evakuasi manusia, tapi untuk fauna, sistemnya masih sangat lemah dan tidak terkoordinasi," ujar salah seorang akademisi dalam diskusi publik. Tanpa komando yang jelas dari pusat, setiap daerah menangani masalah satwa dengan cara berbeda-beda, bergantung pada kapasitas dan kesadaran lokal. Akibatnya, banyak satwa yang mati percuma karena tidak ada rencana penyelamatan yang matang dan terpadu.
Ke depannya, para akademisi mengusulkan agar pemerintah pusat membentuk task force khusus yang bertanggung jawab penuh terhadap penanganan satwa saat bencana besar. Task force ini harus memiliki protokol standar, pelatihan khusus, peralatan memadai, dan jaringan luas yang meliputi NGO penyalur satwa serta lembaga konservasi. Setiap bencana akan memicu mekanisme respons cepat yang sama di seluruh nusantara, sehingga tidak ada lagi celah dalam sistem penyelamatan fauna. Selain itu, perlu juga edukasi masyarakat tentang pentingnya melindungi satwa di saat krisis, karena dalam banyak kasus, masyarakat lokal justru menjadi garda depan penyelamat hewan-hewan yang terancam.
Realitas pahit menunjukkan bahwa setiap kali bencana besar terjadi, hilangnya satwa liar menciptakan kerusakan ekosistem jangka panjang yang sulit dipulihkan. Dengan mengambil inisiatif serius kini, pemerintah tidak hanya menunjukkan komitmen terhadap keanekaragaman hayati Indonesia, tetapi juga mengamankan masa depan lingkungan yang lebih sehat bagi generasi mendatang. Desakan akademisi ini bukan sekadar wacana, melainkan tawaran solusi konkret yang sudah diuji oleh praktik terbaik di berbagai negara maju.
What's Your Reaction?