Mentan Amran Tegaskan: Program Pertanian Papua Bukan Soal Rebut Tanah Rakyat

Mentan Amran membantah isu pembelian tanah Papua Rp 100 ribu per hektare, menegaskan program pertanian dirancang untuk memberdayakan, bukan mengambil alih kepemilikan tanah masyarakat lokal.

Jul 20, 2026 - 00:09
Jul 20, 2026 - 00:09
 0  1
Mentan Amran Tegaskan: Program Pertanian Papua Bukan Soal Rebut Tanah Rakyat

Reyben - Kementerian Pertanian membuka suara lantang merespons isu kontroversial yang menyebar di media sosial mengenai rencana pembelian tanah warga Papua dengan harga fantastis murah, hanya Rp 100 ribu per hektare. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman langsung turun tangan untuk meluruskan pemahaman yang menurutnya jauh melenceng dari rencana sebenarnya. Dalam penjelasannya yang blak-blakan, Amran menegaskan bahwa program pengembangan lahan pertanian di wilayah timur Indonesia tidak pernah dirancang untuk mengambil alih kepemilikan tanah dari masyarakat setempat.

Isu yang memicu kontroversi ini beredar cukup luas, menimbulkan kekhawatiran di kalangan warga Papua bahwa ada upaya sistematis untuk merampas aset tanah mereka dengan nilai tukar yang sangat rendah. Namun, menurut Mentan Amran, pemahaman tersebut adalah hasil dari interpretasi yang keliru terhadap program pemerintah. Dia menjelaskan bahwa strategi pengembangan pertanian di Papua justru dirancang untuk memberdayakan petani lokal dan meningkatkan kesejahteraan mereka melalui kolaborasi yang saling menguntungkan. Program ini bukanlah tentang akuisisi lahan paksa, melainkan tentang bagaimana pemerintah dapat bekerja sama dengan komunitas lokal dalam mengoptimalkan penggunaan lahan untuk produktivitas pertanian.

Menteri Pertanian menekankan bahwa setiap inisiatif pengembangan di Papua harus melibatkan partisipasi aktif dan persetujuan dari masyarakat adat dan petani lokal. Amran memahami dengan sangat baik bahwa tanah memiliki nilai historis, budaya, dan ekonomi yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat Papua. Oleh karena itu, pendekatan pemerintah tidak bisa sembarangan mengabaikan hak-hak mereka. Dia menekankan bahwa dialog terbuka dan transparan dengan pemangku kepentingan lokal menjadi fondasi utama sebelum implementasi program apapun. Dengan cara ini, diharapkan program pertanian dapat memberikan manfaat nyata tanpa mengorbankan kepentingan masyarakat lokal.

Kementerian Pertanian juga berkomitmen untuk melakukan edukasi yang lebih intensif kepada publik tentang detail dan tujuan program pengembangan pertanian di Papua. Amran menyadari bahwa misinformasi yang beredar di media sosial telah mengakibatkan kepanikan dan ketidakpercayaan masyarakat. Ke depannya, pemerintah akan lebih proaktif dalam memberikan informasi yang akurat dan membuka saluran komunikasi yang lebih baik dengan masyarakat. Tujuan utamanya tetap sama: meningkatkan produksi pertanian, membuka lapangan kerja, dan membawa kemakmuran bagi seluruh rakyat Papua tanpa mengorbankan keaslian dan hak-hak mereka.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow