Megawati Dorong Konferensi Asia-Afrika Jilid II: Senjata Diplomasi Lawan Neokolonialisme Modern
Megawati Soekarnoputri mengusulkan penggelar ulang Konferensi Asia-Afrika dengan konsep 'Jilid II' untuk memerangi neokolonialisme modern yang mengambil bentuk berbeda di era digital dan globalisasi.
Reyben - Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri mengangkat wacana penting tentang perlunya menggelar kembali Konferensi Asia-Afrika (KAA) untuk menjawab tantangan geopolitik global yang semakin kompleks. Dalam pandangannya, peristiwa bersejarah yang diadakan di Bandung pada 1955 itu perlu dihadirkan kembali dengan konsep 'Jilid II' mengingat ancaman neokolonialisme dan imperialisme masih terus menghantui negara-negara berkembang dengan bentuk dan sifat yang berbeda di era kontemporer.
Menurut Megawati, sistem yang dulu menguras sumber daya alam dan manusia melalui penjajahan langsung kini berevolusi dalam berbagai instrumen ekonomi, Politik, dan teknologi yang lebih halus. Negara-negara kuat menggunakan mekanisme hutang, kontrol perdagangan, dan hegemoni informasi untuk mempertahankan dominasi mereka atas bangsa-bangsa yang lebih lemah secara ekonomi. Fenomena ini menunjukkan bahwa semangat anti-imperialisme yang menyatukan para pemimpin di Bandung 70 tahun silam masih sangat relevan untuk direvitalisasi dalam bentuk baru yang sesuai dengan dinamika dunia saat ini.
Mantan Presiden RI ini menekankan bahwa KAA Jilid II bukanlah sekadar nostalgia terhadap kejayaan masa lalu, melainkan langkah strategis untuk membangun solidaritas baru antara negara-negara Asia dan Afrika. Dalam era digital dan globalisasi yang penuh tantangan, persatuan berbasis nilai-nilai kebersamaan dan kedaulatan menjadi instrumen ampuh untuk menghadapi tekanan-tekanan eksternal. Platform semacam itu dapat menjadi ruang dialog yang kuat untuk merumuskan strategi bersama dalam menghadapi isu-isu global seperti perubahan iklim, kesenjangan ekonomi, serta dominasi teknologi oleh korporasi multinasional dari negara-negara maju.
Pandangan Megawati mendapat resonansi kuat mengingat Indonesia sebagai inisiator KAA pertama memiliki tanggung jawab historis untuk terus memimpin gerakan non-blok dan solidaritas global. Dengan posisi geopolitik yang strategis dan pengalaman diplomatik yang matang, Indonesia dapat menjadi katalis dalam mewujudkan KAA Jilid II. Inisiatif ini juga akan memperkuat peran Indonesia di panggung internasional sebagai pemimpin yang visioner, tidak hanya peduli pada kepentingan nasional tetapi juga kesejahteraan umat manusia secara luas di seluruh dunia berkembang.
What's Your Reaction?