Mary Robinson Bongkar Hipokrasi Dunia: Mengapa Agresi Israel-AS Dianggap Beda dari Rusia?

Mantan Presiden Irlandia Mary Robinson mengkritik keras standar ganda komunitas internasional dalam merespons konflik geopolitik, khususnya perbedaan reaksi terhadap agresi Rusia di Ukraina versus serangan AS-Israel ke Iran.

Mar 20, 2026 - 23:38
Mar 20, 2026 - 23:38
 0  0
Mary Robinson Bongkar Hipokrasi Dunia: Mengapa Agresi Israel-AS Dianggap Beda dari Rusia?

Reyben - Mantan Presiden Irlandia Mary Robinson kembali memantik polemik internasional dengan menuduh komunitas global menerapkan standar ganda yang sangat jelas dalam merespons konflik geopolitik. Dalam pernyataannya yang tajam, Robinson membandingkan bagaimana dunia secara masif mengecam invasi Rusia ke Ukraina, sementara serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran mendapat sorotan jauh lebih ringan. Kritik ini berasal dari seorang tokoh yang memiliki kredibilitas tinggi dalam advocacy hak asasi manusia dan diplomasi internasional, menjadikan suaranya sebagai alarm penting bagi kesadaran global tentang konsistensi prinsip keadilan.

Robinson, yang pernah memimpin Irlandia sebagai presiden dan aktif dalam berbagai lembaga hak asasi manusia internasional, melihat ada kesenjangan moral yang mengkhawatirkan dalam cara negara-negara Barat merespons aksi militer. Ketika Rusia meluncurkan operasi di Ukraina, reaksi internasional sangat keras dengan sanksi ekonomi, isolasi diplomatik, dan penolakan universal dari forum-forum global. Sebaliknya, ketika AS dan Israel melakukan serangkaian operasi militer terhadap Iran, respons dunia internasional terasa jauh lebih pasif dan terukur. Inkonsistensi ini, menurut Robinson, menunjukkan bahwa prinsip-prinsip hukum internasional diterapkan secara selektif berdasarkan kepentingan geopolitik, bukan pada nilai-nilai universal yang seharusnya menjadi fondasi peradaban modern.

Kritik Robinson resonan dengan sentimen yang berkembang di berbagai negara Global South yang merasa sistem internasional yang ada menafikan keadilan bagi semua pihak. Banyak negara non-alignment dan kelompok civil society internasional juga telah mengungkapkan kekhawatiran serupa tentang bias dalam penerapan hukum internasional. Organisasi hak asasi manusia dari berbagai belahan dunia telah mendokumentasikan bahwa ketika negara-negara Western melakukan intervensi militer, konsekuensi legal dan diplomatik cenderung lebih ringan dibanding saat negara lain berbuat sama. Pola ini menciptakan siklus ketidakpercayaan terhadap institusi internasional yang seharusnya menjadi penjaga keadilan universal, justru menjadi instrumen kepentingan kekuatan besar.

Tampilan Mary Robinson dalam forum internasional kali ini mengingatkan dunia bahwa kredibilitas sistem hukum global berada di ujung tanduk. Jika standar keadilan hanya berlaku ketika sesuai dengan kepentingan negara kaya dan kuat, maka keseluruhan arsitektur multilateralisme pasca-Perang Dingin akan terus memudar. Desakan Robinson untuk konsistensi dalam penerapan nilai-nilai universal bukanlah sekadar kritik akademis, melainkan peringatan bahwa tanpa perbaikan fundamental, kepercayaan terhadap sistem internasional akan semakin rapuh, membuka peluang bagi ketidakstabilan dan konflik yang lebih besar di masa mendatang.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow