Kultur Seram di Kampus Elite: Mengapa Korban Pelecehan FH UI Memilih Diam Daripada Melawan
Kasus pelecehan seksual di FH UI sejak 2025 mengungkap mengapa korban lebih memilih senyap daripada melaporkan—stigma, victim-blaming, dan kurangnya kepercayaan pada sistem institusi menjadi penghalang utama pencarian keadilan.
Reyben - Dinding-dinding gedung Fakultas Hukum Universitas Indonesia yang mewah tidak mampu menyembunyikan rahasia gelap yang telah berlangsung sejak awal 2025. Kasus dugaan pelecehan seksual yang melibatkan mahasiswa FH UI telah membuka mata publik tentang betapa kompleksnya dinamika kekerasan di institusi pendidikan ternama. Bukan hanya soal satu atau dua insiden, melainkan pola sistemik yang menciptakan lingkungan di mana korban lebih memilih untuk tertawa hambar sambil menyimpan luka mendalam.
Mengapa korban memilih senyap? Pertanyaan ini bukan sekadar retoris, tetapi pertanyaan yang mengguncang kesadaran kita tentang moralitas institusi pendidikan. Para korban menghadapi dilema yang sangat nyata: apakah mereka harus melapor dan menghadapi stigma sosial yang akan membuntuti mereka sepanjang masa studi, atau tetap diam dan membiarkan trauma menggerogoti kesehatan mental mereka? Realitas pahit menunjukkan bahwa melaporkan pelecehan di kampus elit seperti FH UI bukan sekadar soal keberanian, tetapi juga perhitungan risiko yang kompleks dan menakutkan.
Kalangan mahasiswa korban mengungkapkan kekhawatiran yang sangat rasional namun memprihatinkan. Mereka takut akan credibility gap—di mana kata-kata mereka akan dipertanyakan, diuji, dan pada akhirnya dianggap kurang kredibel dibandingkan dengan pelaku yang seringkali berasal dari keluarga berpengaruh. Di lingkungan akademik yang seharusnya menjunjung tinggi keadilan, justru sering terjadi victim-blaming yang halus namun menyakitkan. Korban ditanya tentang pakaian mereka, tentang mengapa mereka berada di tempat tersebut, tentang apakah mereka memberikan sinyal yang "salah." Sementara itu, pelaku hidup bebas melanjutkan aktivitas akademik mereka dengan tenang, seolah tidak ada yang pernah terjadi.
Viralnya kasus ini di media sosial telah membuka ruang percakapan yang sebelumnya ditutup rapat. Namun, momentum ini juga menunjukkan keterbatasan sistem formal untuk menangani kasus-kasus semacam ini. Banyak korban baru bermunculan, berbagi cerita mereka dengan hati-hati melalui akun anonim, karena mereka tahu bahwa melaporkan secara formal ke institusi mungkin akan menghasilkan outcome yang mengecewakan. Kepercayaan pada sistem universitas telah terdegradasi sedemikian rupa sehingga publik dianggap sebagai "juri" yang lebih dapat dipercaya daripada mekanisme internal kampus. Ini adalah bukti nyata bahwa institusi pendidikan telah gagal dalam tanggung jawab mereka melindungi mahasiswa dari kekerasan dalam bentuk apapun.
What's Your Reaction?