Krisis Kesiapan Bisnis: Hampir Setengah Pengusaha Indonesia Buta Strategi Menghadapi Bencana Alam

Kadin ungkap 44,5 persen pengusaha Indonesia belum siap hadapi El Niño dan karhutla. Fahrul Fulvian desak pemerintah perkuat sistem peringatan dini dan ciptakan strategi mitigasi komprehensif sebelum bencana alam memukul ekonomi nasional.

Oct 23, 2026 - 00:49
Oct 23, 2026 - 00:49
 0  3
Krisis Kesiapan Bisnis: Hampir Setengah Pengusaha Indonesia Buta Strategi Menghadapi Bencana Alam

Reyben - Dunia bisnis Indonesia sedang menghadapi alarm yang sangat serius. Riset terbaru dari Kadin mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa 44,5 persen pengusaha nasional masih belum memiliki persiapan matang untuk mengantisipasi bencana alam, khususnya El Niño dan kebakaran hutan lahan gambut (karhutla). Data ini menjadi bendera merah yang tidak bisa diabaikan mengingat ancaman kedua fenomena alam tersebut semakin dekat dan tak terduga. Kurangnya kesiapan di level pengusaha akan berdampak domino ke seluruh ekosistem ekonomi, mulai dari disruption rantai pasokan hingga kerugian finansial yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Fahrul Fulvian, salah satu tokoh di Kadin, tidak tinggal diam dan langsung membunyikan lonceng alarm. Ia mendesak pemerintah untuk segera menggerakkan strategi komprehensif dengan memperkuat sistem peringatan dini yang lebih akurat, responsif, dan mudah diakses oleh semua lapisan pengusaha. Desakan ini bukanlah sekadar retorika kosong—ini adalah kebutuhan urgent yang lahir dari analisis mendalam terhadap kerentanan infrastruktur bisnis Indonesia. Sistem early warning yang ada saat ini masih dianggap lamban dan kurang terintegrasi dengan baik di kalangan usaha mikro, kecil, dan menengah yang menjadi tulang punggung ekonomi lokal.

ElNiño, fenomena iklim yang telah terbukti mengakibatkan kekeringan masif dan penurunan curah hujan drastis, akan langsung memukul sektor pertanian, perkebunan, dan pariwisata. Sementara itu, ancaman karhutla bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga ekonomi—udara yang tercemar asap akan mengganggu operasional bisnis, menurunkan produktivitas pekerja, hingga meningkatkan beban kesehatan yang akan menarik sumber daya finansial. Kombinasi kedua bencana ini menciptakan perfect storm untuk ekonomi regional yang sudah fragile. Pengusaha yang tidak siap akan mengalami kerugian berlipat ganda, sementara yang memiliki strategi mitigasi akan menjadi pemenang pasar di tengah chaos.

Kadian menekankan bahwa tanpa intervensi pemerintah yang terukur dan cepat, ekonomi Indonesia akan memasuki fase ketidakpastian yang panjang. Pemerintah perlu membuka dialog intensif dengan sektor swasta untuk merancang protokol respons bersama, menyediakan data cuaca berkualitas tinggi, dan menciptakan mekanisme asuransi atau dana kontingensi untuk pengusaha yang terserang bencana. Investasi dalam teknologi monitoring dan sistem alert berbasis artificial intelligence juga menjadi kebutuhan mendesak. Jika pemerintah dan sektor bisnis tidak bersinergi dengan serius dalam beberapa bulan ke depan, Indonesia berpotensi mengalami kontraksi ekonomi yang signifikan ketika El Niño dan karhutla benar-benar tiba. Waktu untuk bersiap-siap bukanlah luxury, melainkan keharusan survival.

Ketidaksiapan ini juga mencerminkan gap komunikasi antara pemerintah, lembaga meteorologi, dan pelaku usaha. Banyak pengusaha yang tidak memahami potensi dampak nyata dari El Niño terhadap bisnis mereka atau bahkan tidak mengetahui bahwa bencana alam ini sudah masuk dalam radar ancaman nasional. Sosialisasi dan edukasi menjadi fondasi pertama sebelum membangun infrastruktur mitigasi yang kompleks. Kadin telah menunjukkan inisiatif dengan melakukan survei dan publikasi temuan ini, namun momentum ini harus dimanfaatkan oleh pemerintah untuk segera mengambil tindakan konkret, bukan hanya janji-janji di atas kertas yang akan hilang saat berita berganti.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow