Haedar Nashir: Takbir Lebaran Muhammadiyah Bali Lebih Baik di Rumah Saja

Pemimpin Muhammadiyah Haedar Nashir mengajak warga organisasi di Bali untuk melaksanakan takbir Lebaran dari rumah masing-masing, sebagai bentuk penghormatan terhadap perayaan Nyepi umat Hindu yang jatuh pada waktu yang sama.

Mar 17, 2026 - 01:14
Mar 17, 2026 - 01:14
 0  0
Haedar Nashir: Takbir Lebaran Muhammadiyah Bali Lebih Baik di Rumah Saja

Reyben - Pemimpin Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengeluarkan himbauan khusus kepada seluruh warga organisasi di Bali untuk menggeser tradisi takbir keliling pada perayaan Lebaran tahun ini. Alasan utamanya adalah kebetulan waktunya yang bersamaan dengan hari raya Nyepi, perayaan umat Hindu yang sangat sakral di pulau Dewata. Keputusan ini diambil sebagai bentuk penghormatan terhadap keragaman agama dan budaya yang menjadi identitas kuat Bali.

Haedar Nashir menekankan bahwa alternatif takbiran dapat dilakukan dari rumah masing-masing keluarga dengan cara yang lebih intim dan bermakna. Pendekatan ini bukan hanya tentang menghindari benturan kalender keagamaan, tetapi juga merupakan manifestasi nyata dari nilai-nilai moderasi beragama yang selama ini menjadi fondasi pengajaran Muhammadiyah. Beliau percaya bahwa spiritualitas Lebaran dapat dirasakan dengan sama indahnya, bahkan lebih khusyuk, ketika dilakukan dalam lingkup keluarga besar di rumah.

Inisiatif Haedar Nashir ini mencerminkan kesadaran organisasi terbesar kedua di Indonesia terhadap dinamika pluralisme di daerah yang mayoritasnya beragama Hindu. Bali, yang dikenal dengan keindahan alam dan budayanya, memiliki populasi Muslim yang terus berkembang seiring migrasi dan pernikahan antarumat. Dengan jumlah pengikut Muhammadiyah yang signifikan di pulau tersebut, himbauan ini menjadi penting untuk menjaga harmoni sosial dan saling menghormati antar pemeluk agama yang hidup berdampingan.

Takbir keliling memang merupakan tradisi yang sudah mengakar dalam budaya Muslim Indonesia selama berabad-abad, namun Muhammadiyah sebagai organisasi yang progresif dan adaptif membuktikan bahwa tradisi tidak harus dilakukan dengan cara yang sama setiap waktu. Fleksibilitas dalam mempertahankan nilai-nilai spiritual menjadi kunci untuk tetap relevan dengan kondisi sosial masyarakat modern. Kehadiran Muhammadiyah di Bali dengan pendekatan yang sensitif terhadap lingkungan sekitar menunjukkan bahwa agama dapat menjadi jembatan perdamaian, bukan pemicu konflik.

Para warga Muhammadiyah di Bali didorong untuk memahami bahwa peribadatan yang berkualitas bukan diukur dari besarnya kerumunan atau meriah-nya acara, melainkan dari ketulusan niat dan kehadiran hati yang khusyuk. Dengan melaksanakan takbiran di rumah bersama keluarga, momentum Lebaran justru dapat dimanfaatkan untuk mempererat tali silaturahmi dan semakin memperkuat fondasi keluarga Muslim. Himbauan Haedar Nashir ini diharapkan dapat diteladani oleh organisasi keagamaan lainnya dalam menjalin ukhuwah dengan sesama pemeluk agama berbeda, khususnya di wilayah yang memiliki keragaman agama tinggi seperti Bali.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow