Habib Bahar Murka Challenge Ayat Quran Berhadiah Alkohol, Langsung Datang ke Lokasi Event
Habib Bahar bin Smith tidak terima dengan challenge Surat Ad-Dhuha yang memberikan hadiah minuman keras. Beliau langsung turun ke lokasi The Sounds Project di Ancol untuk melakukan protes langsung.
Reyben - Gejolak di dunia digital kembali memanas ketika seorang tokoh agama terkemuka mengambil langkah tegas merespons sebuah konten yang dianggapnya melampaui batas. Habib Bahar bin Smith, yang dikenal vokal dalam membela nilai-nilai islami, tidak tinggal diam ketika melihat sebuah challenge yang menggunakan ayat suci Quran Surat Ad-Dhuha sebagai hadiah dengan memberikan minuman keras sebagai insentif. Kemarahan beliau mencerminkan keprihatinan mendalam terhadap degradasi nilai keagamaan yang semakin marak di platform media sosial.
Kontroversi bermula ketika The Sounds Project (TSP), sebuah event atau acara yang berlokasi di area Ancol, meluncurkan challenge bertajuk Surat Ad-Dhuha dengan mekanisme yang sangat problematis. Para peserta diminta untuk mengikuti challenge tersebut dengan janji hadiah berupa minuman beralkohol. Konsep ini dengan cepat tersebar di berbagai platform digital dan langsung menuai badai kecaman dari berbagai kalangan, terutama dari masyarakat muslim yang merasa nilai-nilai ajaran agama mereka sedang diinjak-injak. Kombinasi antara ayat suci dan minuman terlarang dalam Islam menciptakan kontradiksi yang begitu mencolok dan sulit ditelaah secara logis dari perspektif religius manapun.
Melihat momentum ini semakin panas dan konten semakin viral di media sosial, Habib Bahar bin Smith memutuskan untuk turun langsung ke lapangan. Beliau mendatangi lokasi The Sounds Project di Ancol untuk melakukan gerudukan dan mengutarakan keberatan secara langsung kepada penyelenggara acara. Aksi ini bukan sekadar performatif belaka, melainkan representasi nyata dari komitmen Habib Bahar dalam membela nilai-nilai keislaman. Kehadiran beliau di lokasi tersebut menarik perhatian media massa dan memperkuat momentum publik dalam mengecam tindakan yang dianggap tidak bermoral ini.
Respons keras dari Habib Bahar bin Smith ini menunjukkan bahwa masih ada garis merah yang tidak boleh dilintasi dalam konteks nilai-nilai keagamaan. Meskipun era digital memberikan kebebasan berekspresi yang luas, tanggung jawab moralnya tetap menjadi pertimbangan utama. Incident ini menjadi peringatan bagi content creator dan penyelenggara acara untuk lebih bijak dalam menggunakan simbol-simbol agama dalam strategi marketing atau entertainment mereka. Polemik yang terjadi kemudian memicu diskusi publik yang lebih luas tentang batasan kebebasan berbicara dan pentingnya menghormati sentimen keagamaan masyarakat.
What's Your Reaction?