Gunung Dukono Terus Berdegum, Pendaki Tetap Nekat Meski Belum Ada Larangan Resmi

Pemandu lokal Gunung Dukono memperingatkan pendaki tentang bahaya ekstrem dari letusan yang terjadi setiap detik. Meskipun otoritas telah mengeluarkan rekomendasi jarak aman 4km, belum ada larangan resmi yang membuat banyak pendaki tetap berani mendekati kawah berbahaya ini.

May 9, 2026 - 11:39
May 9, 2026 - 11:39
 0  0
Gunung Dukono Terus Berdegum, Pendaki Tetap Nekat Meski Belum Ada Larangan Resmi

Reyben - Pemandu lokal Gunung Dukono di Halmahera Utara, Maluku, memberikan peringatan keras kepada para pendaki yang masih nekat mendekati kawah gunung berapi paling aktif di Indonesia ini. Mereka melaporkan bahwa letusan terjadi hampir setiap detik, menciptakan kondisi yang sangat berbahaya bagi siapa saja yang berani mendekati zona panas gunung tersebut. Meskipun sudah berkali-kali diingatkan, banyak pendaki ekstrem masih mengabaikan rekomendasi keselamatan yang telah disosialisasikan oleh otoritas setempat.

Otoritas telah mengeluarkan peringatan eksplisit agar masyarakat umum tidak mendekati kawah Dukono dalam jarak radius 4 kilometer. Namun, apa yang menjadi persoalan serius adalah belum adanya larangan resmi atau peraturan perundang-undangan yang mengikat dan dapat ditegakkan secara hukum. Hal ini menciptakan celah yang kemudian dimanfaatkan oleh para pencari adrenalin untuk terus melakukan pendakian ke zona berbahaya tersebut. Ketiadaan sanksi hukum yang jelas membuat peringatan dari otoritas terasa seperti himbauan biasa yang mudah diabaikan.

Para pemandu wisata lokal yang memiliki pengalaman puluhan tahun di Gunung Dukono mengungkapkan kekhawatiran mendalam. Mereka mengetahui bahwa setiap menit yang dihabiskan di dekat kawah adalah gambaran roulette Rusia vulkanik. Letusan yang terjadi hampir terus-menerus tidak hanya menghasilkan lava yang membara, tetapi juga gas beracun dan abu vulkanik yang dapat menyebabkan kerusakan paru-paru parah. Pemandu lokal ini kerap menjadi tulang punggung operasi penyelamatan ketika pendaki mengalami kecelakaan, membuat mereka sangat paham risiko yang sebenarnya dihadapi.

Situasi ini mencerminkan dilema klasik antara kebebasan individu dan keselamatan publik. Sementara otoritas ragu untuk mengeluarkan larangan mutlak, pendaki tampaknya percaya bahwa mereka memiliki hak untuk mengambil risiko sesuai pilihan mereka sendiri. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa ketika sesuatu terjadi, operasi penyelamatan melibatkan ratusan orang, anggaran besar, dan sering kali menghasilkan korban tambahan. Para ahli geologi dan vulkanolog telah memperingatkan bahwa aktifitas Dukono menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir, bukan penurunan.

Beberapa stakeholder telah mengusulkan solusi kompromi, seperti membuat sistem registrasi pendaki yang ketat, memperluas zona terlarang menjadi 6 kilometer, atau bahkan menutup rute pendakian secara berkala berdasarkan aktivitas vulkanik real-time. Namun, implementasi kebijakan-kebijakan ini masih terhambat oleh berbagai faktor administratif dan teknis. Sementara itu, guide lokal terus berdoa agar tidak ada lagi kecelakaan yang mengharuskan mereka mengevakuasi pendaki ceroboh dari tengah medan gunung yang mengguncang.

Kisah-kisah heroik dari pemandu lokal yang menyelamatkan turis asing maupun domestik dari jengkeraman Dukono memang menginspirasi banyak orang. Namun, mereka juga menekankan bahwa keberuntungan hanya akan bertahan hingga suatu waktu tertentu. Dengan setiap letusan yang terjadi setiap detik, ancaman itu tidak pernah tidur, dan para pendaki yang mengabaikan peringatan hanya bermain dengan waktu mereka sendiri.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow