Destinasi Wisata Tak Aman? Ini Alasan Turis Malas Kembali Lagi

Keamanan bukan hanya soal kenyamanan, tetapi fondasi kepercayaan wisatawan untuk kembali. Ahli manajemen krisis pariwisata mengungkapkan bahwa persepsi keamanan mempengaruhi loyalitas pengunjung dan rekomendasi positif yang krusial bagi keberlanjutan industri.

Sep 16, 2026 - 23:37
Sep 16, 2026 - 23:37
 0  4
Destinasi Wisata Tak Aman? Ini Alasan Turis Malas Kembali Lagi

Reyben - Industri pariwisata Indonesia sedang menghadapi tantangan serius yang sering terlewatkan dari radar pembuat kebijakan. Bukan hanya soal keindahan alam atau kelengkapan fasilitas, tetapi keamanan menjadi pemain utama yang menentukan apakah seorang wisatawan akan merekomendasikan destinasi impian mereka kepada orang lain, atau selamanya menutup halaman bookmark perjalanan mereka. Fadjar, Staf Ahli Bidang Manajemen khususnya Manajemen Krisis Kepariwisataan, mengungkapkan temuan mengejutkan tentang bagaimana persepsi keamanan secara langsung mempengaruhi keputusan wisatawan untuk melakukan kunjungan berulang ke destinasi favorit mereka.

Menurut Fadjar, fenomena ini bukan sekadar opini atau asumsi belaka. Data dari berbagai survei menunjukkan bahwa wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, menempatkan faktor keamanan sebagai prioritas utama dalam merencanakan perjalanan wisata. Ketika seorang pengunjung merasa aman dan terlindungi selama liburan mereka, kepuasan tersebut akan terwariskan melalui word-of-mouth yang sangat powerful di era digital ini. Sebaliknya, pengalaman buruk berkaitan dengan keamanan bisa dengan cepat menyebar melalui platform media sosial dan review online, menciptakan reputasi buruk yang sulit untuk diperbaiki. Ini bukan sekadar statistik, melainkan tentang membangun kepercayaan jangka panjang dengan pengunjung.

Krisis keamanan, meski sekecil apapun, bisa menggerogoti kepercayaan yang sudah dibangun selama bertahun-tahun. Wisatawan yang pernah mengalami pencurian, penipuan, atau merasa tidak terlindungi dalam area wisata, akan berpikir dua kali atau bahkan tidak akan sama sekali mempertimbangkan untuk kembali. Dalam konteks pariwisata berkelanjutan, hal ini menjadi sangat problematik karena industri ini bergantung pada kunjungan berulang dan rekomendasi positif. Fadjar menekankan bahwa pemerintah daerah dan pelaku usaha wisata perlu mengintegrasikan manajemen keamanan sebagai bagian dari strategi inti mereka, bukan hanya sebagai pelengkap. Investasi dalam pelatihan petugas keamanan, peningkatan sistem CCTV, dan koordinasi dengan aparat kepolisian lokal bukanlah biaya tambahan, melainkan investasi untuk pertumbuhan industri jangka panjang.

Untuk mencapai pariwisata yang benar-benar berkelanjutan, diperlukan pendekatan holistik yang melibatkan semua stakeholder. Pemerintah harus menetapkan standar keamanan minimum untuk setiap destinasi wisata, komunitas lokal perlu diberdayakan untuk menjadi bagian dari sistem keamanan, dan pengusaha harus mengalokasikan sumber daya yang cukup untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi pengunjung. Dengan demikian, persepsi positif terhadap keamanan akan menjadi aset berharga yang mendorong pertumbuhan ekonomi pariwisata, sekaligus menjaga kualitas hidup masyarakat lokal.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow