Dari Lobi Diplomasi hingga Kepercayaan FIFA: Cerita Sengit Perjalanan Indonesia Raih Hosting FIFA ASEAN Cup 2026

Erick Thohir membuka perjalanan penuh tantangan Indonesia dalam meraih hak tuan rumah FIFA ASEAN Cup 2026, melibatkan lobi diplomasi, dukungan presidensial, dan koordinasi lintas kementerian untuk meyakinkan FIFA akan kompetensi dan komitmen negara.

Sep 15, 2026 - 04:48
Sep 15, 2026 - 04:48
 0  1
Dari Lobi Diplomasi hingga Kepercayaan FIFA: Cerita Sengit Perjalanan Indonesia Raih Hosting FIFA ASEAN Cup 2026

Reyben - Erick Thohir, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sekaligus tokoh sentral dalam proses bidding Indonesia, membuka tabir panjangnya upaya keras bangsa merebut kesempatan menjadi tuan rumah FIFA ASEAN Cup 2026. Dalam ungkapannya yang cukup detail, ia menjelaskan bahwa perjalanan menuju pencapaian prestis ini bukanlah sekadar proses administratif biasa, melainkan sebuah perjuangan multi-dimensi yang melibatkan seluruh lapisan negara. Dari dukungan penuh Presiden Joko Widodo hingga keterlibatan aktif kementerian dan lembaga pemerintah lainnya, setiap langkah dirancang dengan matang untuk meyakinkan FIFA bahwa Indonesia siap menjadi penyelenggara yang kompeten dan profesional.

Proses bidding internasional untuk mengadakan turnamen bergengsi seperti FIFA ASEAN Cup memang bukan perkara sederhana. Menurut Thohir, Indonesia harus bersaing dengan negara-negara ASEAN lainnya yang sama-sama memiliki ambisi tinggi. Namun, keunggulan kompetitif Indonesia terletak pada infrastruktur stadion yang sudah tersebar di berbagai wilayah, pengalaman sebelumnya dalam menyelenggarakan kompetisi olahraga internasional, serta komitmen pemerintah yang terwujud dalam bentuk dukungan finansial dan regulasi yang kondusif. Thohir menjelaskan bahwa kredibilitas Indonesia di mata FIFA diperkuat oleh track record positif dalam mengorganisir event-event berskala global sebelumnya, termasuk dalam sektor olahraga dan non-olahraga.

Dukungan Presiden menjadi faktor krusial yang tidak bisa diabaikan dalam perjalanan ini. Keterlibatan langsung pimpinan tertinggi negara menunjukkan betapa seriusnya pemerintah Indonesia dalam memperjuangkan hak hosting. Thohir menyoroti bahwa FIFA tidak hanya menilai aspek teknis dan infrastruktur, tetapi juga melihat komitmen politikal dari tingkat tertinggi pemerintahan. Dengan adanya dukungan presidensial, pesan yang tersampaikan adalah bahwa Indonesia bukan hanya menawarkan stadion dan lapangan yang memenuhi standar internasional, tetapi juga menunjukkan political will yang kuat untuk membuat turnamen ini sukses dan berkesan. Ini menjadi pembeda signifikan dalam kompetisi bidding dengan calon tuan rumah lainnya.

Selangkah lebih jauh, Thohir juga menekankan pentingnya koordinasi antar-kementerian dan lembaga dalam mempersiapkan proposal bidding yang solid. Dari Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Kesehatan, hingga Kementerian Pekerjaan Umum, semua terlibat dalam merumuskan rencana menyeluruh yang mencakup aspek kesehatan penonton, aksesibilitas transportasi, keamanan, hingga dampak ekonomi jangka panjang. Kerja sama lintas institusi ini menunjukkan keseriusan sistem tata kelola negara dalam menyambut event internasional bergengsi. Dengan strategi holistik dan dukungan berkelanjutan dari seluruh elemen pemerintah, Indonesia telah berhasil memposisikan diri sebagai kandidat terdepan untuk menjadi tuan rumah FIFA ASEAN Cup 2026.

Kemenangan ini, meski belum final, telah membuktikan bahwa dengan kolaborasi solid dan dedikasi tinggi, Indonesia mampu bersaing di panggung internasional. Turnamen ini nantinya tidak hanya akan meningkatkan prestise olahraga Indonesia, tetapi juga membuka peluang ekonomi signifikan melalui pariwisata, investasi infrastruktur, dan ekspansi industri kreatif. Erick Thohir dan tim-nya telah menetapkan fondasi yang kuat untuk membuat FIFA ASEAN Cup 2026 menjadi momentum bersejarah bagi Indonesia dan bukti nyata kemampuan negara dalam mengorganisir event tingkat dunia.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow