Bansos Rp12 Triliun Turun, Malang Justru Digebuk Harga Cabai Rp120 Ribu—Rakyat Tetap Menjerit

Pengurangan bansos Rp12 triliun bertepatan dengan kenaikan harga cabai hingga Rp120 ribu di Malang, menciptakan dilema ekonomi ganda bagi masyarakat.

Apr 3, 2026 - 17:22
Apr 3, 2026 - 17:22
 0  0
Bansos Rp12 Triliun Turun, Malang Justru Digebuk Harga Cabai Rp120 Ribu—Rakyat Tetap Menjerit

Reyben - Pemerintah telah mengurangi alokasi bantuan sosial (bansos) sebesar Rp12 triliun dalam anggaran tahun ini, namun ironinya, masyarakat di berbagai daerah malah mengalami tekanan ekonomi yang semakin berat. Kota Malang menjadi salah satu epicenter krisis harga yang mengerikan, khususnya untuk komoditas cabai yang sudah menembus angka fantastis Rp120 ribu per kilogram. Situasi ini menciptakan paradoks yang menggigit: ketika dana bantuan berkurang, kemampuan daya beli masyarakat juga semakin terpuruk akibat inflasi harga pangan yang membabi buta.

Menarik untuk diperhatikan bagaimana penurunan bansos ini bertepatan dengan lonjakan harga cabai yang tidak masuk akal. Data dari lapangan menunjukkan bahwa harga cabai merah di pasar tradisional Malang sudah mencapai level yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam beberapa tahun terakhir. Seorang pedagang di Pasar Oro-Oro Dowo menceritakan bahwa stok cabai semakin terbatas sementara permintaan tetap tinggi, menciptakan dinamika pasar yang sangat merugikan konsumen rumahan. Kondisi ini memaksa keluarga-keluarga dengan pendapatan terbatas untuk mengurangi konsumsi cabai atau mencari alternatif bahan makanan lain yang juga mengalami kenaikan harga.

Ketika dikaitkan dengan kebijakan pemerintah mengurangi bansos, masyarakat merasa terjepit dari dua sisi sekaligus. Di satu sisi, bantuan sosial yang biasanya menjadi penopang hidup keluarga-keluarga miskin dan rentan berkurang jumlahnya. Di sisi lain, kebutuhan dasar seperti bumbu masak jadi semakin mahal dan terjangkau oleh kalangan tertentu saja. Wawancara dengan beberapa ibu rumah tangga di kawasan pemukiman padat Malang mengungkapkan betapa mereka harus berkompromi dalam setiap pengeluaran harian. Beberapa bahkan terpaksa mengubah pola makan keluarga dengan mengurangi penggunaan cabai atau mengandalkan cabai kering yang dianggap lebih hemat meski kualitasnya berbeda.

Persoalan ini menunjukkan bahwa kebijakan ekonomi tidak bisa hanya melihat satu sisi tanpa mempertimbangkan dinamika pasar yang kompleks. Pemerintah perlu segera melakukan intervensi, baik melalui penambahan bansos, stabilisasi harga pangan, maupun mendorong petani cabai untuk meningkatkan produksi. Tanpa tindakan cepat, krisis ekonomi rumah tangga di Malang dan daerah lain bisa semakin meluas, meninggalkan jejak kesulitan yang lebih dalam bagi masyarakat kelas bawah.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow