Bandara Syamsudin Noor Jadi Penyelamat: Kolam Airnya Dimanfaatkan untuk Padamkan Kebakaran Hutan
Bandara Syamsudin Noor membuka akses dua kolam penampung airnya untuk mendukung operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Langkah strategis ini menunjukkan komitmen infrastruktur publik dalam menghadapi krisis lingkungan yang semakin serius di Kalimantan Selatan.
Reyben - Dalam situasi darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus mengancam, Bandara Syamsudin Noor di Banjarmasin menunjukkan komitmen nyata dengan membuka akses kolam penampung airnya sebagai sumber air alternatif untuk operasi pemadaman. Keputusan strategis ini membuktikan bahwa infrastruktur publik tidak hanya berfungsi untuk keperluan rutin, tetapi juga dapat menjadi garis pertahanan pertama saat bencana alam melanda. Langkah responsif dari pihak bandara ini menunjukkan solidaritas dalam upaya kolektif mengatasi krisis lingkungan yang semakin serius di wilayah Kalimantan Selatan.
Bandara Syamsudin Noor sebenarnya memiliki dua kolam penampung air berkapasitas besar yang dibangun dengan fungsi primer menampung air limpasan hujan. Air dari kedua kolam ini biasanya dialirkan melalui sistem saluran drainase kota untuk mencegah genangan dan banjir. Namun, dalam konteks karhutla yang semakin intensif, potensi kolam tersebut kini dioptimalkan untuk keperluan yang lebih mendesak dan menyelamatkan nyawa. Dengan volume air yang signifikan, kedua kolam ini menjadi aset berharga bagi tim pemadaman kebakaran yang membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar untuk memadamkan api di berbagai lokasi.
Ketua atau pejabat bandara mengungkapkan bahwa izin penggunaan kolam untuk pemadaman karhutla adalah bentuk tanggung jawab sosial perusahaan terhadap komunitas lokal dan lingkungan sekitar. Dalam kondisi darurat, regulasi dan prosedur normal dapat disesuaikan untuk prioritas penyelamatan. Logistik pengambilan air dari kolam bandara memang memerlukan koordinasi khusus dengan petugas damkar dan instansi terkait, namun semua pihak berkomitmen untuk memastikan distribusi air berjalan lancar tanpa mengganggu operasional bandara. Penggunaan kolam ini telah terbukti efisien dalam mengurangi waktu respons petugas pemadam kebakaran.
Para ahli lingkungan menyambut baik inisiatif Bandara Syamsudin Noor sebagai contoh kerjasama lintas sektor yang diperlukan untuk mengatasi krisis iklim dan kebakaran hutan. Upaya preventif dan responsif seperti ini harus menjadi standar baru dalam mengelola bencana alam di era perubahan iklim. Diharapkan, bandara dan institusi publik lainnya di berbagai daerah dapat mengikuti jejak positif ini dengan membuka akses infrastruktur mereka untuk keperluan penanganan bencana. Kolaborasi antara sektor privat dan publik terbukti menjadi kunci efektivitas dalam mitigasi bencana alam, terutama dalam situasi karhutla yang berulang setiap tahun di Indonesia bagian timur.
What's Your Reaction?