Bahaya di Balik Layar: Psikiater Peringatkan Billboard Film 'Aku Harus Mati' Bisa Memicu Tragedi

Psikiater Dr. Lahargo Kembaren dari PP-PDSKJI memperingatkan bahwa billboard film "Aku Harus Mati" memiliki potensi memicu bunuh diri, terutama pada kelompok rentan. Isu ini melibatkan tanggung jawab sosial industri film dalam berkomunikasi dengan masyarakat.

Apr 6, 2026 - 18:32
Apr 6, 2026 - 18:32
 0  0
Bahaya di Balik Layar: Psikiater Peringatkan Billboard Film 'Aku Harus Mati' Bisa Memicu Tragedi

Reyben - Kontroversi seputar billboard film "Aku Harus Mati" terus bergulir di media sosial. Kali ini, dukungan kritik datang dari kalangan profesional kesehatan mental yang memiliki kredibilitas tinggi. Dr. Lahargo Kembaren, seorang psikiater dari Pengabdian Masyarakat PP-PDSKJI, turut menyuarakan kekhawatirannya terhadap konten visual promosi film tersebut. Menurutnya, materi promosi semacam ini bukan hanya sekadar iklan komersial biasa yang bisa diabaikan begitu saja.

Dr. Kembaren menekankan bahwa konten visual berbentuk banner atau billboard yang menampilkan tema-tema sensitif seperti kematian dan bunuh diri memiliki potensi dampak psikologis yang serius. Khususnya bagi kelompok rentan seperti remaja, individu dengan riwayat depresi, atau mereka yang sedang mengalami krisis emosional. Psikiater berpengalaman ini menjelaskan bahwa paparan berulang terhadap konten semacam itu bisa memicu efek suggestion yang membahayakan. Dalam dunia psikiatri, fenomena ini dikenal sebagai copycat effect atau werther effect, di mana individu yang vulnerable termotivasi untuk meniru perilaku destruktif setelah melihat representasinya secara visual.

Sorotan dari kalangan medis profesional ini menambah suara pembelaan dari masyarakat luas yang sebelumnya sudah mengkritik promosi film tersebut. Berbagai platform digital dipenuhi unggahan dan diskusi tentang etika promosi produk hiburan yang menyentuh isu-isu sensitif. Banyak pihak berpendapat bahwa kebebasan berekspresi dalam industri film tidak boleh mengorbankan tanggung jawab sosial, terutama dalam hal kesehatan mental masyarakat. Para pengguna media sosial menyerukan kepada production house dan distributor untuk lebih mempertimbangkan dampak jangka panjang dari strategi marketing mereka.

Antara seni, komersial, dan tanggung jawab sosial, muncul pertanyaan mendalam tentang batas-batas yang seharusnya dijaga dalam promosi konten. Dr. Kembaren dan para profesional kesehatan mental lainnya tidak menolak keberadaan film dengan tema berat atau kontroversial, namun mereka menekankan perlunya pendekatan yang lebih hati-hati dalam mempromosikannya. Kampanye marketing yang lebih bertanggung jawab, misalnya dengan menambahkan peringatan khusus atau memilih medium promosi yang lebih tersegmentasi, bisa menjadi solusi kompromis. Kasus billboard film "Aku Harus Mati" ini menjadi momentum penting bagi industri kreatif Indonesia untuk merefleksikan praktik promosi mereka dan menciptakan standar etika yang lebih kuat dalam mengkomunikasikan produk sensitif kepada publik.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow