Uang Kiriman Belum Nyampe, Harga Makan di Malang Sudah Melompat—Mahasiswa Kost Terdesak
Mahasiswa di Malang menghadapi krisis keuangan ketika harga kebutuhan sehari-hari melonjak drastis sebelum uang kiriman dari keluarga tiba. Kondisi ini memaksa mereka mengurangi makan dan memilih alternatif yang lebih murah.
Reyben - Situasi ekonomi mahasiswa yang mengontrak di Malang semakin sulit. Sementara menunggu kiriman uang dari orang tua, harga kebutuhan sehari-hari sudah lebih dulu naik signifikan. Dari harga makan hingga biaya listrik dan air, semuanya mengalami kenaikan yang membuat dompet mahasiswa semakin tipis. Kondisi ini menciptakan dilema bagi ribuan pelajar yang tinggal di berbagai daerah sekitar kampus-kampus besar Malang.
Data dari survei informal menunjukkan bahwa harga makanan di warung-warung sekitar kampus naik hingga 20 persen dalam tiga bulan terakhir. Nasi kuning yang biasanya dijual Rp 10 ribu kini mencapai Rp 12 ribu, sementara lauk pauk tambahan dijual terpisah dengan harga yang semakin mahal. Minuman botol yang sebelumnya Rp 5 ribu sekarang menembus Rp 6 ribu. Biaya sewa kamar kos juga mengalami peningkatan, terutama di lokasi-lokasi strategis dekat dengan universitas. Beberapa pemilik kos mulai menerapkan kenaikan tarif hingga Rp 50 ribu per bulan untuk tahun ajaran baru.
Mahasiswa semester akhir, Ria Putri (21), mengaku harus menghemat lebih ketat sejak orang tuanya baru bisa mengirim uang minggu depan. "Saya makan hanya dua kali sehari dan banyak memilih makanan murahan. Kalau beli 'gorengan plus tahu goreng', habis Rp 7 ribu. Dulu bisa beli dua porsi sekarang cuma satu," keluh Ria yang tinggal di sebuah kos dekat kampus Universitas Negeri Malang. Cerita serupa juga dialami oleh Budi (20), mahasiswa Universitas Brawijaya yang mencatat pengeluaran hariannya melonjak Rp 15 ribu per hari dari bulan lalu.
Kesulitan ini bukan hanya soal makanan. Biaya operasional kamar kos seperti tagihan listrik dan air juga naik. Beberapa pengelola kos mulai memberlakukan tarif lebih tinggi karena meningkatnya biaya produksi listrik dan distribusi air bersih. Mahasiswa yang sebelumnya mengeluarkan Rp 200 ribu untuk listrik sebulan, kini harus siap Rp 250 ribu. Kondisi ini memaksa banyak mahasiswa untuk mengurangi penggunaan AC dan lebih sering belajar di kampus atau perpustakaan yang gratis.
Organisasi mahasiswa mulai menyuarakan kekhawatiran tentang kondisi ekonomi yang makin berat. Mereka mendesak kampus untuk memberikan dukungan lebih, baik dalam bentuk subsidi makanan di kantin, bantuan dana darurat, atau program beasiswa tambahan untuk mahasiswa yang terkena dampak kenaikan biaya hidup. Beberapa kampus di Malang memang sudah memiliki program ini, namun dianggap masih belum cukup menjangkau seluruh mahasiswa yang membutuhkan.
What's Your Reaction?