Syahganda Nainggolan: Kepala Bakom Baru yang Bawa Perspektif Harari tentang AI ke Istana Prabowo

Syahganda Nainggolan dilantik sebagai Kepala Bakom dan membawa perspektif futuristik Yuval Noah Harari tentang AI dan algoritma ke dalam strategi komunikasi pemerintah Prabowo, menunjukkan ambisi Istana untuk menguasai narasi digital.

Oct 2, 2026 - 17:21
Oct 2, 2026 - 17:21
 0  7
Syahganda Nainggolan: Kepala Bakom Baru yang Bawa Perspektif Harari tentang AI ke Istana Prabowo

Reyben - Syahganda Nainggolan resmi menjejakkan kakinya sebagai Kepala Badan Komunikasi Strategis (Bakom) Republik Indonesia setelah dilantik langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. Momen ini menandai pergantian signifikan dalam strategi komunikasi pemerintah, terutama dalam cara pemerintah memahami dan mengkomunikasikan isu-isu masa depan. Tidak sekadar memegang jabatan administratif, Nainggolan membawa visi intelektual yang mengaitkan pemikiran futuristik dengan narasi pemerintahan—sebuah pendekatan yang tampaknya menjadi ciri khas Istana di era Prabowo.

Dalam pidato atau statement-nya, Nainggolan merujuk pemikiran Yuval Noah Harari, futuris asal Israel yang dikenal dengan karya monumental seperti Sapiens dan Homo Deus. Referensi ini bukan kebetulan. Harari sering membahas bagaimana teknologi, khususnya kecerdasan buatan dan algoritma, mengubah peradaban manusia secara fundamental. Dengan menghadirkan perspektif Harari ke dalam diskusi kebijakan pemerintah, Nainggolan seolah mengingatkan bahwa Indonesia perlu berpikir jauh ke depan dalam menghadapi transformasi digital yang tidak terbendung. Ini adalah sinyal bahwa Bakom tidak hanya fokus pada spin dokter sehari-hari, tetapi juga ingin mengontrol narasi tentang masa depan bangsa.

AI dan algoritma menjadi pusat perhatian dalam pemikiran yang dibawa Nainggolan. Di era ketika data adalah minyak baru dan algoritma menentukan apa yang orang lihat di media sosial, pemerintah harus memahami power dinamika ini. Harari mengingatkan bahwa algoritma bukan sekadar alat netral—algoritma membentuk keputusan, pilihan, bahkan cara orang berpikir. Dengan menempatkan topik ini di radar Bakom, sepertinya Prabowo dan timnya ingin menunjukkan bahwa mereka bukan hanya concerned dengan masalah ekonomi dan keamanan tradisional, tetapi juga dengan ekosistem informasi dan bagaimana menciptakan narasi yang relevan untuk generasi digital. Ini adalah bagian dari pertempuran soft power yang sesungguhnya di zaman sekarang.

Nainggolan memiliki track record sebagai pemikir dan akademisi yang tidak sekadar mengikuti arus mainstream. Pengangkatannya sebagai Kepala Bakom menunjukkan pilihan Prabowo untuk memilih orang-orang yang memiliki kedalaman intelektual dalam menyusun strategi komunikasi pemerintah. Bukan sekadar juru bicara yang lancar beretorika, melainkan orang yang paham tentang gelombang perubahan global dan mampu mengartikulasikan visi pemerintah dalam konteks yang lebih luas. Dengan membawa Harari ke meja diskusi pemerintah, Nainggolan membuka peluang bagi pemerintah untuk berbicara tentang isu-isu yang sebenarnya penting bagi masa depan: bagaimana Indonesia mengatur teknologi, bagaimana menjaga kemanusiaan di tengah otomasi, dan bagaimana memastikan bahwa algoritma tidak mengontrol nasib bangsa.

Arah narasi yang sedang dibangun Istana melalui Bakom di bawah kepemimpinan Nainggolan menunjukkan ambisi intelektual yang berbeda dari rezim sebelumnya. Bukan hanya tentang merespons kritik atau mengelola krisis, tetapi tentang secara proaktif membentuk pemahaman publik tentang tren global dan bagaimana pemerintah berposisi dalam konteks tersebut. Dengan menggandeng pemikiran Harari tentang AI dan algoritma, pemerintah sedang mencoba membangun legitimasi bahwa mereka adalah pihak yang visioner dan tidak tertinggal dari perkembangan zaman. Ini adalah langkah strategis dalam memenangkan "perang narasi" modern—bukan hanya berbicara lebih keras, tetapi berbicara lebih cerdas.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow