Satu Hari WFH Per Minggu Benarkah Solusi Hemat BBM? Ini Faktanya

Pemerintah klaim WFH sehari seminggu hemat BBM 20%, tapi kritikus menunjukkan biaya sebenarnya hanya bergeser ke sektor lain dan batasan ini malah mengurangi fleksibilitas kerja

Mar 23, 2026 - 11:11
Mar 23, 2026 - 11:11
 0  0
Satu Hari WFH Per Minggu Benarkah Solusi Hemat BBM? Ini Faktanya

Reyben - Kebijakan work from home (WFH) yang dibatasi hanya sehari dalam seminggu kembali menjadi perbincangan hangat di kalangan pekerja kantoran. Pemerintah mengklaim langkah ini mampu menghemat biaya bahan bakar minyak (BBM) hingga 20 persen, namun benarkah asumsi tersebut sesuai dengan kondisi lapangan? Pertanyaan ini mulai menggelitik para ahli ekonomi dan pengamat ketenagakerjaan untuk meninjau ulang efektivitas kebijakan yang sempat digencarkan selama pandemi ini.

Saat diwawancarai mengenai efektivitas WFH terbatas, para pengambil kebijakan di Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional berargumen bahwa produktivitas kerja akan tetap terjaga apabila karyawan hanya bekerja dari rumah satu kali setiap minggu. Mereka khawatir jika frekuensi WFH ditingkatkan, justru akan menciptakan fenomena long weekend yang tidak terkontrol dan menurunkan output pegawai. Logika ini terdengar masuk akal di permukaan, namun berbagai penelitian independen menunjukkan gambaran yang jauh lebih kompleks dan nuansa.

Kritikus kebijakan ini mengingatkan bahwa perhitungan penghematan BBM 20 persen terasa terlalu sederhana dan mengabaikan dinamika ekonomi yang lebih luas. Ketika karyawan bekerja dari rumah, memang penghematan bahan bakar untuk transportasi pribadi bisa terjadi, tetapi biaya yang sebelumnya dikelurkan untuk bensin kini bergeser ke sektor lain seperti listrik rumah tangga, internet, dan konsumsi makanan di rumah. Belum lagi jika mempertimbangkan produktivitas yang sesungguhnya, beberapa penelitian menunjukkan bahwa fleksibilitas bekerja dari rumah justru meningkatkan efisiensi waktu dan fokus karyawan dalam mengerjakan tugas-tugas yang memerlukan konsentrasi tinggi.

Menariknya, survei yang dilakukan oleh berbagai lembaga riset independen menunjukkan hasil yang bertentangan dengan klaim pemerintah. Para responden melaporkan bahwa batasan satu hari WFH justru menciptakan frustrasi dan meningkatkan kemacetan di jalan raya karena semua karyawan masuk kantor dalam hari-hari yang sama. Selain itu, beberapa perusahaan swasta yang telah mencoba model WFH fleksibel malah melaporkan peningkatan kepuasan karyawan dan retensi tenaga kerja yang lebih baik, yang pada gilirannya berpengaruh positif terhadap produktivitas jangka panjang. Dengan mempertimbangkan semua faktor ini, pertanyaan yang perlu dijawab bukan lagi apakah WFH efektif, melainkan bagaimana merancang kebijakan yang benar-benar adaptif dengan kebutuhan industri modern dan kesejahteraan pekerja secara holistik.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow