Sarmuji Buka Suara: Pancasila Butuh 'Restart' Melalui Budaya di Tengah Dominasi Digital dan Kecerdasan Buatan

Sarmuji mengusulkan revitalisasi Pancasila melalui strategi kebudayaan yang memanfaatkan kearifan lokal dan teknologi digital untuk menjangkau generasi muda di era AI.

Jul 14, 2026 - 19:34
Jul 14, 2026 - 19:34
 0  0
Sarmuji Buka Suara: Pancasila Butuh 'Restart' Melalui Budaya di Tengah Dominasi Digital dan Kecerdasan Buatan

Reyben - Pancasila, fondasi ideologi bangsa yang lahir dari perenungan mendalam para pendiri negara, kini membutuhkan strategi pembaruan yang relevan dengan zaman. Itulah apa yang disampaikan oleh Sarmuji, seorang pemikir sosial yang concern terhadap masa depan nilai-nilai kebangsaan di era digital. Menurutnya, cara paling efektif untuk menghidupkan kembali semangat Pancasila bukanlah melalui pendekatan formal yang kaku, melainkan dengan memanfaatkan kekuatan budaya lokal sebagai medium penyampai pesan.

Di era ketika algoritma dan kecerdasan buatan mulai mendominasi cara kita berpikir dan berinteraksi, Sarmuji menekankan bahwa generasi muda perlu dipandu kembali kepada akar-akar kearifan lokal yang kaya akan nilai-nilai Pancasila. Bukan dengan membaca dokumen konstitusional yang membosankan, tetapi dengan menggali kembali tradisi, seni, cerita rakyat, dan praktik-praktik budaya yang telah menyimpan pesan-pesan universal tentang kebersamaan, gotong royong, dan keadilan. Strategi kebudayaan ini dirancang untuk membuat nilai-nilai Pancasila terasa hidup, relevan, dan bahkan aspirasional bagi generasi digital yang kerap merasa asing dengan konsep-konsep abstrak.

Sarmuji percaya bahwa platform digital dan teknologi AI bukan musuh, melainkan peluang besar untuk mendistribusikan kearifan lokal dengan cara yang menarik dan interaktif. Konten budaya, mulai dari musik tradisional yang diremix, film dokumenter tentang praktik-praktik lokal, hingga kampanye media sosial yang mengaitkan nilai-nilai Pancasila dengan kehidupan sehari-hari, bisa menjadi jembatan efektif untuk menyentuh hati generasi muda. Pendekatan ini mengakui bahwa jika kita ingin tetap relevan, nilai-nilai kebangsaan harus dikomunikasikan dalam bahasa dan format yang dimengerti oleh anak muda zaman sekarang, bukan sebaliknya menuntut mereka untuk menyesuaikan diri dengan cara lama.

Persoalannya, strategi kebudayaan ini memerlukan komitmen serius dari berbagai pihak—mulai dari pemerintah, akademisi, seniman, hingga influencer dan kreator konten. Tanpa kolaborasi sistematis dan investasi yang cukup, revitalisasi Pancasila melalui budaya hanya akan menjadi slogan kosong yang terlupakan dalam hiruk pikuk dunia digital. Namun jika dilakukan dengan sungguh-sungguh, strategi ini berpotensi menciptakan gerakan organik yang membuat nilai-nilai Pancasila bukan hanya dipahami, tetapi benar-benar dihayati dan dipraktikkan oleh generasi penerus bangsa. Ini adalah tantangan dan peluang sekaligus di era transformasi digital ini.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow