Rupiah Tertekan Lagi, Menyentuh Rp 17.896 per Dolar Meski BI Pertahankan Suku Bunga

Rupiah melemah ke Rp 17.896 per dolar AS pada pagi ini, padahal BI telah mempertahankan suku bunga untuk menjaga stabilitas. Pelemahan 78 poin ini menunjukkan tekanan global yang terus mempengaruhi nilai tukar mata uang lokal.

Sep 24, 2026 - 09:26
Sep 24, 2026 - 09:26
 0  2
Rupiah Tertekan Lagi, Menyentuh Rp 17.896 per Dolar Meski BI Pertahankan Suku Bunga

Reyben - Rupiah kembali mengalami tekanan pada perdagangan hari ini. Mata uang garuda melemah hingga 78 poin atau setara 0,44 persen, menyentuh level Rp 17.896 per dolar Amerika Serikat pada pukul 09.08 WIB. Pelemahan ini terjadi meskipun Bank Indonesia (BI) telah mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di posisi 5,75 persen dalam keputusan terakhirnya. Keputusan BI untuk menahan BI Rate mencerminkan upaya pemerintah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global yang terus berlanjut.

Sebelumnya, rupiah berada di level Rp 17.818 per dolar AS, namun tidak mampu bertahan pada posisi tersebut. Penurunan nilai tukar ini menunjukkan bahwa faktor-faktor eksternal terus memberikan pengaruh signifikan terhadap kinerja mata uang lokal. Investor dan pelaku pasar masih menunjukkan preferensi yang kuat terhadap dolar, sementara rupiah menghadapi aliran modal keluar yang persisten. Kondisi ini menciptakan dinamika pasar yang kompleks, di mana kebijakan domestik saja mungkin tidak cukup untuk menahan tekanan valuasi yang datang dari luar.

Keputusan BI untuk mempertahankan suku bunga pada level 5,75 persen merupakan strategi untuk menjaga daya tarik investasi di Indonesia sekaligus memberikan ruang bagi pertumbuhan ekonomi. Dengan mempertahankan BI Rate, bank sentral berharap dapat menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pemulihan ekonomi tanpa menambah beban inflasi lebih lanjut. Namun, tampaknya pasar masih menunggu sinyal yang lebih kuat atau langkah konkret lainnya untuk memulihkan kepercayaan terhadap rupiah. Analisis pasar menunjukkan bahwa sentimen global terhadap mata uang emerging market masih negatif, dan Indonesia tidak terkecuali dari pola ini.

Para pengamat ekonomi menekankan bahwa stabilisasi rupiah memerlukan pendekatan holistik yang melibatkan berbagai instrumen kebijakan. Selain suku bunga, pemerintah perlu fokus pada penguatan fundamentals ekonomi, peningkatan cadangan devisa, dan komunikasi yang efektif dengan pasar global. Sementara itu, pelaku usaha dan masyarakat perlu tetap waspada terhadap fluktuasi kurs, terutama yang melakukan transaksi internasional. Momentum pemulihan akan bergantung pada kemampuan pemegang otoritas untuk menunjukkan komitmen nyata dalam mengatasi tantangan ekonomi eksternal ini.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow