Ribuan SPPG di Daerah Terpencil Tertahan, BGN Dinilai Lambat Bergerak Memberikan Izin Operasional
Ratusan stasiun pengamatan gempa di wilayah 3T masih tertahan tanpa kepastian operasional dari BGN, meski semua persyaratan sudah terpenuhi. Para operator mendesak penjelasan transparan dan timeline yang jelas untuk memulai layanan.
Reyben - Ketegangan semakin memuncak antara asosiasi operator dan Badan Geologi Negara (BGN) terkait pengesahan operasional ratusan stasiun pengamatan, pelaporan dan gempa (SPPG) yang tersebar di wilayah 3T. Meskipun telah menyelesaikan semua persyaratan teknis dan administratif yang ditetapkan dalam perjanjian kerjasama (PKS), hingga saat ini operator SPPG masih menunggu lampu hijau dari BGN untuk mulai beroperasi secara resmi. Penundaan ini tidak hanya merugikan ekonomi operator lokal, tetapi juga mengancam efektivitas sistem peringatan dini gempa bumi di daerah-daerah yang secara geografis rawan bencana alam.
Mismanajemen periode transisi ini telah memicu keluhan keras dari berbagai asosiasi yang mewakili kepentingan operator SPPG. Mereka mendesak BGN untuk segera memberikan penjelasan resmi mengenai faktor-faktor apa saja yang masih menjadi hambatan dalam proses verifikasi akhir. Operator telah menghabiskan sumber daya finansial yang signifikan untuk membangun infrastruktur stasiun, merekrut teknisi terlatih, dan memastikan semua peralatan memenuhi standar internasional. Namun tanpa kepastian operasional dari BGN, investasi mereka seakan tergantung di udara, menciptakan ketidakpastian bisnis yang sangat merugikan.
Wilayah 3T—terdepan, terluar, dan tertinggal—merupakan zona strategis yang secara seismik aktif dan sangat membutuhkan jaringan pemantauan gempa yang komprehensif. Kehadiran SPPG di lokasi-lokasi ini seharusnya memperkuat sistem deteksi dini dan memberikan respons cepat ketika terjadi aktivitas seismic. Dengan keberadaan ratusan stasiun yang siap operasional namun tidak mendapat izin, terdapat celah signifikan dalam jaring pengamatan geologi nasional. Situation ini bukan sekadar soal birokrasi, melainkan menyangkut keselamatan publik dan upaya mitigasi bencana yang lebih efektif di daerah rentan.
Ketiadaan komunikasi transparan dari BGN menambah frustrasi stakeholder. Para operator mempertanyakan kriteria pasti yang harus dipenuhi untuk mendapatkan sertifikasi operasional, apakah ada revisi standar yang belum dikomunikasikan, atau sekadar penundaan administratif biasa. Asosiasi mengajukan permintaan formal agar BGN mengadakan pertemuan terbuka untuk menjelaskan timeline yang realistis dan roadmap hingga semua SPPG dapat beroperasi secara penuh. Jika penundaan ini berlanjut, risiko meningkat bahwa operator akan beralih fokus ke proyek lain, yang pada akhirnya akan merusak ekosistem pemantauan geologi yang sedang dibangun.
What's Your Reaction?