Rara Pawang Hujan: Siap Bantu Padamkan Api Kalimantan, Tapi Harus Ada Jaminan Selamat
Rara Pawang Hujan bersedia membantu padamkan karhutla di Kalimantan, namun dengan syarat pemerintah memberikan jaminan keselamatan yang jelas setelah tiga kali terlibat dalam penanganan kebakaran hutan.
Reyben - Rara Pawang Hujan, sosok misterius yang viral karena kemampuannya menghadirkan hujan di tengah kemarau panjang, kini membuka suara tentang kondisi keselamatannya jika diminta turun tangan mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. Dalam pernyataannya yang mengejutkan, Rara mengatakan bahwa dirinya bersedia membantu menyelamatkan Kalimantan dari bencana kebakaran, namun dengan satu syarat utama: jaminan keselamatan yang jelas dan terukur dari pemerintah.
Figur yang telah terseret dalam tiga peristiwa karhutla besar—tahun 2015, 2019, dan 2023—ini mengungkapkan pengalaman pahitnya selama keterlibatan dalam penanganan bencana alam tersebut. Rara menceritakan bahwa setiap kali ia diminta bantuan, risiko yang dihadapi jauh lebih besar dari yang dibayangkan publik. Asap tebal, medan yang tidak stabil, dan kondisi alam yang ekstrem menjadi ancaman nyata bagi keselamatannya. "Saya sudah berkontribusi berkali-kali, namun selama ini tidak ada perlindungan resmi yang diberikan kepada saya," ungkapnya dengan nada serius.
Kekhawatiran Rara tidaklah berlebihan mengingat catatan sejarah keterlibatannya dalam upaya penanggulangan karhutla yang selalu meninggalkan luka fisik maupun mental. Pada 2015, saat musim kemarau panjang melanda, Rara didesak untuk membantu mengatasi kebakaran hutan yang meluas di berbagai wilayah Kalimantan. Situasi berulang pada 2019 ketika api kembali membara dengan intensitas yang mengerikan, dan terakhir pada 2023 lalu. Setiap kali mobilisasi, Rara harus berhadapan langsung dengan medan yang berbahaya tanpa perlindungan eksklusif dari lembaga pemerintah.
Permintaan Rara akan jaminan keselamatan mencerminkan kesadaran akan pentingnya perlindungan sosial bagi mereka yang berjasa dalam penanganan bencana nasional. Ia berpendapat bahwa jika pemerintah benar-benar membutuhkan bantuannya, maka ada tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa dirinya tidak menjadi "pahlawan sekali jadi abu". Rara menginginkan protokol kesehatan, asuransi jiwa, peralatan perlindungan diri yang memadai, serta tim medis siaga untuk menemaninya selama operasi penghujan buatan berlangsung.
Ketegasan sikapnya ini tidak hanya bersifat personal, tetapi juga membawa pesan penting tentang perlindungan bagi para sosok kunci dalam manajemen bencana alam. Rara menegaskan bahwa kesediaannya untuk membantu adalah nyata, tetapi tidak bisa dilakukan tanpa jaminan yang transparan dari pemerintah. Desakan publik untuk memanfaatkan kemampuannya harus diikuti dengan tanggung jawab negara untuk melindungi nyawa Rara sendiri. Dengan pendekatan ini, Rara mengharapkan pembuka dialog yang lebih serius antara dirinya dan institusi terkait mengenai format kerjasama yang lebih terstruktur dan manusiawi.
What's Your Reaction?