Petani Tembakau Temanggung Menangis dalam Doa Bersama: Regulasi Pemerintah Dinilai Mengabaikan Nasib Mereka

Ratusan petani tembakau di Temanggung mengadakan aksi doa bersama untuk menyuarakan kekhawatiran atas Peraturan Pemerintah 28/2024. Mereka meminta pemerintah membuka dialog sebelum kebijakan final diberlakukan.

Jun 25, 2026 - 12:20
Jun 25, 2026 - 12:20
 0  0
Petani Tembakau Temanggung Menangis dalam Doa Bersama: Regulasi Pemerintah Dinilai Mengabaikan Nasib Mereka

Reyben - Suasana haru meliputi lapangan di Temanggung saat ratusan petani tembakau menggelar doa bersama untuk menyuarakan kegelisahan mereka. Mereka bukan hanya menghadap Tuhan, tetapi juga mencoba mencuri perhatian pemerintah yang dinilai terus membuat kebijakan tanpa mendengarkan suara dari lapangan. Aksi damai ini menjadi simbol putus asa seorang petani yang merasa diabaikan dalam proses pembuatan peraturan yang menyangkut masa depan ekonomi mereka. Setiap doa yang dilantunkan adalah manifestasi nyata dari kekhawatiran jutaan keluarga petani yang bergantung pada tanaman tembakau untuk bertahan hidup.

Konflikt yang memicu aksi ini berasal dari turunan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024, sebuah regulasi yang dirancang tanpa melibatkan stakeholder utama—petani tembakau sendiri. Para pejabat pemerintah di Jakarta tampaknya lebih fokus pada target kesehatan nasional tanpa mempertimbangkan dampak ekonomi yang akan menghimpit ribuan petani di berbagai daerah penghasil tembakau. Kebijakan ini bukan hanya tentang aturan birokrasi, melainkan tentang penghidupan, anak-anak yang perlu sekolah, dan keluarga yang bergantung pada setiap panen. Ketiadaan ruang dialog sejati antara pemerintah dan petani menciptakan jurang kepercayaan yang semakin dalam setiap harinya.

Para petani hadir dengan tangan kosong namun hati yang penuh dengan pertanyaan. Mereka meminta hal sederhana: ddengarkan. Mereka menginginkan pemerintah membuka meja diskusi sebelum mengesahkan kebijakan final yang akan mengubah wajah pertanian tembakau Indonesia. Banyak dari mereka sudah turun-temurun menanam tembakau, mengembangkan keahlian yang tidak mudah dialihkan ke komoditas lain. Ketika regulasi dibuat dalam ruang tertutup, mereka merasa diperlakukan sebagai pemain dalam permainan yang tidak mereka mengerti. Aspirasi mereka sebenarnya bukan penolakan total, tetapi permintaan untuk menjadi bagian dari solusi, bukan hanya korban dari keputusan sepihak.

Torpedo kekhawatiran yang menghantui setiap keluarga petani adalah bagaimana mereka akan bertahan jika tembakau tidak lagi bisa dipasarkan secara bebas. Transisi ekonomi membutuhkan waktu, perencanaan matang, dan dukungan nyata—bukan hanya slogan. Pemerintah perlu memahami bahwa anjuran untuk berhenti menanam tembakau harus diikuti dengan program pemberdayaan yang konkret, akses ke pasar alternatif, dan jaminan pendapatan selama masa peralihan. Doa bersama yang dilakukan petani Temanggung adalah panggilan terakhir sebelum mereka kehilangan harapan terhadap sistem yang mestinya melindungi, bukan menghimpit mereka.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow