NU Dorong AHWA Menjadi Institusi Tetap: Lebih dari Sekadar Badan Sementara

Nahdlatul Ulama mengusulkan AHWA berubah dari lembaga sementara menjadi institusi permanen, dengan penekanan pada pemilihan pemimpin berintegitas tinggi yang tidak mengejar kekuasaan.

Aug 19, 2026 - 09:00
Aug 19, 2026 - 09:00
 0  2
NU Dorong AHWA Menjadi Institusi Tetap: Lebih dari Sekadar Badan Sementara

Reyben - Nahdlatul Ulama (NU) kembali mengangkat isu strategis tentang masa depan Ahlus Sunnah wal Jamaah World Assembly (AHWA). Organisasi Islam terbesar di Indonesia ini mengusulkan agar AHWA tidak lagi berstatus sebagai lembaga ad hoc atau badan sementara, melainkan ditingkatkan menjadi institusi permanen dengan struktur organisasi yang lebih solid dan berkelanjutan. Proposal ini disampaikan dalam forum diskusi internal NU, mencerminkan komitmen organisasi terhadap penguatan ekosistem keislaman global yang lebih inklusif dan terorganisir dengan baik.

Menurut usulan NU, perubahan status AHWA menjadi lembaga permanen bukanlah sekadar formalitas administratif belaka. Organisasi bernuansa tradisional ini menekankan bahwa komposisi kepengurusan AHWA harus diisi oleh ulama-ulama yang memiliki integritas tinggi, yakni mereka yang sudah "tuntas dengan dirinya sendiri". Istilah ini mengacu pada ulama mastur—sosok yang telah menjalani perjalanan spiritual mendalam, memiliki kedudukan intelektual mapan, dan tidak lagi terjebak dalam ambisi duniawi seperti mengejar pangkat atau kekuasaan. Kriteria selektif ini bertujuan memastikan bahwa setiap pengambilan keputusan di AHWA benar-benar didasarkan pada pertimbangan nilai-nilai keislaman yang murni, bukan kepentingan politis atau personal.

Keputusan NU ini mencerminkan strategi jangka panjang untuk memperkuat peran organisasi dalam percaturan global Islam. Dengan menjadikan AHWA sebagai lembaga permanen, NU berharap dapat membangun platform yang lebih stabil untuk dialog antar-umat Islam lintas negara, sekaligus menjadi wadah artikulasi kepentingan Islam moderat yang inklusif. Langkah ini sejalan dengan visi NU sebagai organisasi yang tidak hanya fokus pada internal Indonesia, tetapi juga aktif berkontribusi dalam pembentukan narasi Islam global yang progressive dan rahmatan lil alamin. Dengan struktur yang lebih permanen, AHWA diharapkan dapat mengambil keputusan strategis dengan lebih konsisten dan berkelanjutan tanpa terganggu oleh pergantian kepemimpinan atau dinamika internal yang fluktuatif.

Usulan NU ini juga mengandung pesan moral yang dalam tentang pentingnya integritas dalam kepemimpinan keagamaan. Dalam era digital yang penuh dengan godaan dan distraksi, memilih pemimpin yang "sudah selesai dengan dirinya" bukan hanya ideal normatif, tetapi kebutuhan praktis yang nyata. Sosok ulama seperti ini dipandang memiliki kapasitas untuk mendengarkan beragam perspektif, membuat keputusan yang bijaksana, dan terbuka terhadap inovasi tanpa mengorbankan nilai-nilai fundamental Islam. Proposal NU ini menjadi reminder penting bagi seluruh organisasi Islam bahwa kualitas kepemimpinan adalah fondasi utama dalam membangun institusi yang berkelanjutan dan bermakna bagi umat.

Perubahan dari status ad hoc menjadi permanen juga implikasi praktis yang signifikan, mulai dari aspek pendanaan, infrastruktur, hingga kapasitas administratif yang lebih terukur. Lembaga permanen memungkinkan AHWA untuk melakukan perencanaan jangka panjang, membina sumber daya manusia, dan menjalin kemitraan strategis dengan organisasi Islam lainnya di berbagai belahan dunia. Dengan demikian, usulan NU bukan hanya tentang perubahan status formal, tetapi tentang transformasi institusional yang akan memberikan dampak signifikan terhadap kapasitas AHWA dalam melaksanakan misi-misinya di tingkat global.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow