Nostalgia Berteknologi: Mengapa Gen Z Memilih iPod Daripada Spotify?

Gen Z mulai meninggalkan Spotify dan beralih ke iPod. Tren ini mencerminkan keinginan generasi muda untuk lebih mengontrol konsumsi musik mereka tanpa algoritma yang invasif.

Jun 14, 2026 - 22:00
Jun 14, 2026 - 22:00
 0  1
Nostalgia Berteknologi: Mengapa Gen Z Memilih iPod Daripada Spotify?

Reyben - Fenomena menarik sedang berkembang di kalangan generasi muda Indonesia. Sejumlah pengguna Gen Z mulai meninggalkan aplikasi streaming musik modern seperti Spotify dan beralih kembali ke iPod, perangkat pemutar musik legendaris Apple yang pernah mendominasi pasar pada tahun 2000-an hingga awal 2010-an. Tren ini menunjukkan bahwa meski digital, gen muda tetap memiliki daya tarik tersendiri terhadap format lama yang dinilai lebih personal dan autentik.

Pergeseran preferensi ini bukan tanpa alasan. Pengguna Gen Z menjelaskan bahwa mereka merasa jenuh dengan algoritma yang terus mengontrol apa yang mereka dengarkan di platform streaming modern. Spotify dan aplikasi sejenis lainnya menawarkan rekomendasi berdasarkan data dan perilaku pengguna, namun banyak yang merasa pengalaman ini terasa impersonal dan repetitif. Sebaliknya, menggunakan iPod memaksa mereka untuk secara sadar memilih lagu dan album yang ingin mereka dengarkan, menciptakan pengalaman mendengarkan musik yang lebih intentional dan bermakna. Fenomena ini sebenarnya bagian dari gerakan yang lebih besar—kembali ke teknologi analog atau semi-analog yang terasa lebih manusiawi.

Selain itu, aspek koleksi pribadi juga menjadi daya tarik utama. Dengan iPod, pengguna memiliki kepemilikan penuh atas musik yang mereka simpan dalam perangkat tersebut. Tidak ada ketergantungan pada subscription bulanan atau khawatir lagu favorit akan dihapus dari platform streaming karena masalah lisensi. Generasi Z yang tumbuh dalam era digital ini paradoks—mereka menginginkan fleksibilitas teknologi modern tetapi dengan kontrol dan kepemilikan yang lebih nyata. iPod memberikan solusi praktis untuk kedua kebutuhan tersebut, terutama bagi mereka yang mencari cara mendengarkan musik tanpa distraksi internet dan notifikasi aplikasi lainnya.

Kembalinya minat terhadap iPod juga mencerminkan tren nostalgia yang sedang viral di media sosial. TikTok, Instagram, dan platform digital lainnya penuh dengan konten tentang teknologi retro yang dianggap "aesthetic" dan "trendy" oleh gen muda. Kepemilikan iPod menjadi bagian dari identitas personal dan ekspresi gaya hidup yang berbeda dari mainstream. Ini bukan hanya tentang mendengarkan musik, tetapi tentang membuat pernyataan—bahwa generasi ini cerdas secara kritis terhadap konsumsi digital dan mampu menghargai nilai-nilai dari era sebelumnya.

Menariknya, permintaan kembali terhadap iPod juga mendorong pasar sekunder untuk berkembang pesat. Platform jual-beli online seperti Tokopedia, Shopee, dan marketplace lainnya kini dipenuhi dengan listing iPod bekas yang dijual dengan harga premium. Beberapa penjual bahkan menawarkan layanan refurbishment untuk memastikan perangkat dalam kondisi optimal. Apple sendiri mungkin tidak pernah membayangkan bahwa produk yang sudah mereka discontinue ini akan kembali relevan dan diminati oleh generasi yang lahir justru setelah iPod mencapai puncak popularitasnya.

Tren ini sekaligus menjadi kritik halus terhadap industri streaming musik modern yang semakin invasif dengan algoritma dan personalisasi data. Ketika teknologi seharusnya membuat hidup lebih mudah, justru banyak pengguna merasa dikontrol dan dimanjakan oleh sistem rekomendasi yang terlalu pintar. Kembali ke iPod adalah cara mereka untuk mengambil kembali agency dan kebebasan dalam memilih apa yang ingin mereka konsumsi—sebuah pesan yang cukup kuat dari generasi digital natives yang seharusnya paling nyaman dengan teknologi terkini.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow