Nelayan Gresik Terjepit: Harga Ikan Anjlok hingga 40%, Pendapatan Bulanan Tinggal Separuh
Nelayan Gresik mengalami musim buruk dengan harga ikan anjlok 40% dan pendapatan menurun drastis. Kembung dan udang dijual jauh lebih murah, sementara biaya operasional tetap tinggi.
Reyben - Keluh kesah nelayan Gresik kembali mencuat ke permukaan. Kali ini bukan sekadar cuaca buruk atau mesin kapal rusak, melainkan serangan dari harga yang terus merosot. Ikan dan udang yang seharusnya menjadi nafkah harian kini hanya memberikan sekadar sampah ekonomi. Beberapa nelayan di pelabuhan Gresik mengakui pendapatan mereka menyusut hingga setengah dari bulan-bulan sebelumnya, padahal musim panen seharusnya membawa berkah.
Menurut pengakuan nelayan bernama Sarpan, seorang pemilik kapal berukuran sedang, harga ikan laut seperti kembung dan tamban kini hanya dijual Rp 8.000 hingga Rp 10.000 per kilogram. Bandingkan dengan dua bulan lalu yang masih menyentuh Rp 15.000 per kilogram. Sementara itu, udang yang dulunya dihargai Rp 60.000 per kilogram, kini melorot menjadi Rp 35.000 sampai Rp 40.000. "Dengan anjlokan harga seperti ini, ongkos operasional kapal seperti bahan bakar dan gaji ABK justru semakin tinggi. Kami antara rugi dan untung," ujar Sarpan dengan nada frustasi.
Pasokan ikan yang berlimpah di musim panen menjadi bom waktu bagi harga. Selain dari nelayan lokal Gresik, ikan dan udang juga berdatangan dari nelayan Jawa Tengah dan Madura yang memilih menjual di Gresik karena dekat. Akumulasi pasokan ini menciptakan kegembiraan semu di pasar—pembeli seolah-olah mendapat untung, padahal nelayan justru terantuk. Para pedagang pengumpul (bakul) pun tidak banyak membantu; mereka membeli dengan harga anjlok kemudian menjual ke distributor dengan margin tipis. Nelayan, yang seharusnya paling diuntungkan, malah paling tersiksa.
Ketua kelompok nelayan di Gresik, Bambang Sutrisno, mengatakan kondisi saat ini adalah yang terparah dalam lima tahun terakhir. "Biaya melaut meningkat karena harga solar naik, tapi hasil tangkapan harganya turun. Aritmatika ini mustahil menguntungkan," jelasnya. Beberapa nelayan mulai berpikir untuk mengurangi frekuensi melaut atau beralih ke pekerjaan lain, meski opsi alternatif sangat terbatas di daerah pesisir seperti Gresik. Pemerintah daerah belum menunjukkan respons konkret untuk menstabilkan harga atau memberikan subsidi kepada nelayan yang terpuruk ini.
Hal yang cukup menarik adalah pola musiman yang sebenarnya sudah dapat diprediksi. Namun, belum ada mekanisme efektif untuk mengatasi lompatan harga yang drastis seperti ini. Beberapa daerah lain di Indonesia pernah mencoba sistem cold storage atau koperasi penjualan langsung, namun di Gresik inisiatif semacam itu masih berjalan lambat. Sementara itu, nelayan terus berduka atas setiap tangkapan yang mereka panen, karena nilai jualnya sudah tidak sepadan dengan usaha dan risiko yang mereka ambil.
What's Your Reaction?