Mengapa Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga Takut Pergi? Psikolog Ungkap Jebakan Mental yang Mengikat
Kasus YTR membuka diskusi penting tentang mengapa korban kekerasan dalam rumah tangga sangat sulit meninggalkan pasangan mereka. Psikolog mengungkap delapan mekanisme psikologis yang membuat korban terjebak dalam lingkaran setan hubungan yang merusak.
Reyben - Kasus YTR yang mencengangkan publik Indonesia belakangan ini membuka mata kita pada realitas kelam di balik layar banyak rumah tangga. Pertanyaan yang paling sering terucap adalah: mengapa korban tidak langsung pergi saat menyadari hubungan mereka penuh dengan kekerasan dan manipulasi? Jawabannya jauh lebih kompleks dari sekadar "tidak berani meninggalkan". Para ahli psikologi telah mengidentifikasi mekanisme psikologis yang membuat korban seolah terjebak dalam lingkaran setan, sulit untuk melepaskan diri meski setiap hari mereka merasakan sakit.
Pertama, korban sering mengalami kondisi yang disebut learned helplessness atau keputusasaan yang dipelajari. Setiap kali mereka mencoba melawan atau memberontak terhadap perlakuan kasar pasangan, respons yang mereka terima adalah kekerasan yang lebih parah. Lama-kelamaan, otak korban "belajar" bahwa usaha mereka sia-sia. Mereka berhenti mencoba dan mulai percaya bahwa tidak ada cara untuk mengubah situasi. Kondisi ini menyerupai binatang yang ditahan dengan rantai lemah—mereka sudah berhenti berusaha memutus rantai tersebut karena pengalaman berulang kali gagal. Pola pikir ini bukan kelemahan karakter, melainkan respons biologis otak yang rasional menghadapi ancaman berkelanjutan.
Kedua, pelaku kekerasan umumnya menguasai seni manipulasi emosional yang sangat canggih. Mereka akan berganti-ganti antara menunjukkan kekerasan ekstrem dan tiba-tiba menjadi sangat manis dan penuh kasih sayang. Siklus ini disebut sebagai intermittent reinforcement—penghargaan yang tidak konsisten ini justru membuat korban lebih terikat. Ketika seorang pasangan kasar tiba-tiba membeli bunga, menulis surat cinta, atau meminta maaf dengan air mata, otak korban membanjiri dopamin—zat kimia yang sama yang bertanggung jawab atas ketagihan. Korban kemudian terus mengharapkan versi "baik" dari pasangan mereka akan kembali, hingga mereka rela bertahan dengan kekerasan demi momen-momen manis itu.
Ketiga, isolasi sosial yang sengaja dilakukan pelaku membuat korban semakin sulit mencari jalan keluar. Pelaku akan secara bertahap memisahkan korban dari keluarga, teman-teman, dan sistem dukungan lainnya. Mereka memberitahu korban bahwa orang-orang terdekat sebenarnya tidak peduli, tidak mengerti, atau justru membahayakan mereka. Seiring waktu, pasangan menjadi satu-satunya sumber informasi dan validasi bagi korban. Tanpa dukungan eksternal, korban merasa tidak memiliki alternatif dan terpaksa bergantung sepenuhnya pada pasangan mereka.
Keempat, faktor finansial memainkan peran yang signifikan. Banyak pelaku mengendalikan semua aspek keuangan keluarga, termasuk akses ke uang dan aset. Korban yang tidak memiliki sumber pendapatan independen akan merasa terperangah—bagaimana mereka bisa bertahan hidup jika meninggalkan? Kekhawatiran tentang kemana mereka akan pergi, bagaimana membayar sewa, dan siapa yang akan merawat anak-anak mereka menjadi rantai psikologis yang sangat kuat.
Kelima, stigma sosial dan kekhawatiran tentang apa yang orang pikirkan membuat korban malu untuk meminta bantuan. Masyarakat sering kali menyalahkan korban dengan pertanyaan seperti "mengapa kamu tidak pergi?" atau "pasti kamu ada kesalahan juga". Korban merasa jika mereka meninggalkan pasangan, mereka akan dianggap sebagai istri yang gagal, ibu yang tidak bertanggung jawab, atau perempuan yang "tidak cukup baik untuk dipertahankan". Rasa malu ini membuat mereka memilih diam dan tetap tinggal.
Keenam, takut akan kehilangan anak-anak menjadi alasan yang sangat kuat bagi banyak korban untuk tetap berada dalam hubungan yang merusak. Pelaku sering mengancam bahwa jika korban pergi, mereka akan kehilangan hak asuh anak. Korban yang cinta pada anak-anak mereka akan memilih untuk tinggal dalam neraka daripada berpisah dengan buah hati mereka.
Ketujuh, trauma bonding atau pengikatan trauma membuat korban merasa terhubung secara emosional dengan pelaku dengan cara yang tidak sehat. Ketika seseorang mengalami ancaman ekstrem diikuti dengan afeksi, otak mereka melepaskan endorfin yang menciptakan ikatan yang sangat kuat. Korban kemudian bingung antara cinta dan trauma, menjadi sangat sulit untuk memisahkan dua hal tersebut.
Kedelapan, banyak korban juga memiliki riwayat trauma masa kecil atau keluarga yang juga mengalami kekerasan. Pola perilaku yang sudah mereka kenal sejak kecil terasa "normal" bagi mereka. Mereka mungkin tidak sepenuhnya menyadari bahwa yang mereka alami adalah kekerasan, dan berpikir ini adalah bagian dari hubungan yang wajar.
Memahami alasan-alasan ini bukan untuk membenarkan, tetapi untuk membuka mata kita pada kompleksitas psikologis yang dialami korban. Teman atau keluarga yang mengenal korban kekerasan dalam rumah tangga sebaiknya tidak mengatakan "tinggal pergi saja". Sebaliknya, mereka perlu memberikan dukungan sabar, mendengarkan tanpa menghakimi, dan membantu korban mencari bantuan profesional. Penghargaan kita terhadap keberanian korban untuk akhirnya pergi harus diungkapkan dengan aksi nyata: mendengarkan, mendukung, dan tidak pernah meninggalkan mereka sendirian dalam perjalanan menuju kebebasan.
What's Your Reaction?