Mediasi Ruben Onsu dan Sarwendah Ricuh, Dua Versi Berbeda soal Insiden di Ruangan Tertutup

Mediasi hak asuh anak Ruben Onsu dan Sarwendah di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menjadi ricuh dengan insiden teriakan-teriakan. Kedua pihak mengeluarkan versi berbeda tentang apa yang terjadi dalam ruang mediasi tertutup tersebut.

Aug 21, 2026 - 00:44
Aug 21, 2026 - 00:44
 0  8
Mediasi Ruben Onsu dan Sarwendah Ricuh, Dua Versi Berbeda soal Insiden di Ruangan Tertutup

Reyben - Proses mediasi yang seharusnya menjadi jalan keluar damai bagi Ruben Onsu dan Sarwendah justru menciptakan drama baru. Dalam sesi mediasi terkait perselisihan hak asuh anak di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Rabu, 19 Agustus 2026, situasi menjadi tegang hingga terjadinya insiden yang menyebabkan kedua belah pihak saling mengeluarkan pernyataan berlainan. Suasana yang seharusnya tenang untuk mencari solusi terbaik bagi kepentingan anak-anak justru berubah menjadi ruang pertentangan dengan keras kepala.

Ruben Onsu mengklaim bahwa selama proses mediasi berlangsung, Sarwendah melakukan tindakan yang tidak terduga. Menurut keterangan Ruben, mantan istrinya tersebut melakukan teriakan-teriakan yang mengganggu jalannya mediasi. Ruben merasa bahwa sikap Sarwendah tidak konstruktif dan membuat atmosfer ruang mediasi menjadi tidak kondusif. Dia mengatakan bahwa perilaku tersebut menunjukkan ketidakinginan Sarwendah untuk bekerja sama dalam menemukan titik temu demi kepentingan bersama, terutama untuk para buah hati mereka.

Sementara itu, Sarwendah memberikan versi yang sama sekali berbeda dari kejadian tersebut. Dia menjelaskan bahwa teriakan yang terjadi merupakan respons emosional dari situasi yang dia anggap tidak adil. Sarwendah berpendapat bahwa Ruben tidak memberikan penawaran yang masuk akal, sehingga dia merasa terpaksa mengungkapkan kekecewaan dan frustrasinya dengan cara yang lebih ekspresif. Menurut pandangannya, emosi yang keluar adalah hasil dari ketegangan yang telah lama terpendam dan merasa tidak didengar oleh pihak lawan.

Insiden ini menandai semakin rumitnya hubungan antara kedua tokoh publik tersebut. Meskipun kedua pihak sebelumnya menyatakan kesediaan untuk menyelesaikan masalah mereka secara kekeluargaan, tampaknya ekspektasi yang berbeda dan pendekatan yang kurang empati membuat langkah mediasi ini tidak membuahkan hasil optimal. Para pengamat hukum keluarga menilai bahwa keterlibatan emosi yang tinggi dalam kasus asuh anak memang sering menjadi hambatan untuk mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan. Kasus ini menjadi pengingat bahwa proses hukum keluarga membutuhkan tingkat kesabaran, pemahaman, dan itikad baik yang tinggi dari semua pihak yang terlibat.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow