Legislator PDIP Protes Keras: DPR Dikhianati dengan Kenaikan BBM Pertamax Dadakan

Anggota Komisi VI DPR dari Fraksi PDIP, Mufti Anam, mengecam keras kenaikan harga BBM Pertamax yang dilakukan secara mendadak tanpa pemberitahuan atau diskusi dengan legislatif. Kritik ini menyoroti minimnya koordinasi antara eksekutif dan DPR dalam mengambil keputusan ekonomi strategis.

Jun 10, 2026 - 14:40
Jun 10, 2026 - 14:40
 0  1
Legislator PDIP Protes Keras: DPR Dikhianati dengan Kenaikan BBM Pertamax Dadakan

Reyben - Suasana tegang menyelimuti gedung parlemen ketika anggota Komisi VI DPR dari Fraksi PDIP, Mufti Anam, mengangkat isu sensitif mengenai kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax. Politisi berpengalaman ini tidak menyembunyikan kekecewaannya atas kebijakan yang digulirkan tanpa pemberitahuan sebelumnya kepada legislatif. Dalam pandangan Anam, langkah sepihak ini mencerminkan minimnya koordinasi antara eksekutif dan legislatif dalam mengambil keputusan strategis yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat luas.

Kritik tajam muncul lantaran proses pengambilan keputusan kenaikan harga BBM dilakukan secara tiba-tiba tanpa melibatkan diskusi matang bersama DPR. Mufti Anam menekankan bahwa sebagai lembaga perwakilan rakyat, DPR seharusnya mendapat ruang untuk memberikan masukan dan pertimbangan sebelum kebijakan ekonomi berdampak besar diimplementasikan. Ketiadaan sosialisasi dan dialog preventif ini, menurutnya, menunjukkan lemahnya mekanisme checks and balances dalam sistem pemerintahan. Legislator tersebut menganggap penting adanya transparansi dan komunikasi terbuka antara institusi negara dalam menyusun arah kebijakan publik.

Dampak nyata dari kenaikan harga BBM Pertamax tidak hanya dirasakan di sektor transportasi, melainkan merambah ke berbagai lini industri dan layanan publik. Masyarakat menengah ke bawah yang mengandalkan transportasi berbasis BBM akan menanggung beban finansial tambahan. Kenaikan biaya operasional ini secara domino akan memicu inflasi pada harga-harga kebutuhan pokok, mulai dari jasa angkutan, logistik, hingga harga barang di tingkat retail. Anggota PDIP ini melihat perlunya evaluasi mendalam terhadap dampak sosial ekonomi sebelum suatu kebijakan pricing diterapkan, sesuatu yang seharusnya melibatkan keterlibatan aktif parlemen sebagai wakil rakyat.

Mufti Anam menegaskan bahwa Komisi VI DPR, yang memiliki portofolio mengurusi energi dan sumber daya mineral, memiliki tanggung jawab mengawal setiap keputusan strategis di bidang tersebut. Absennya ruang diskusi dengan legislator dianggap sebagai pelanggaran protokol institusional yang serius. Fraksi PDIP dan anggotanya berkomitmen untuk terus mengawasi jalannya kebijakan pemerintah dan memastikan setiap keputusan mempertimbangkan kepentingan rakyat. Dialog antara pemerintah dan DPR, kata Anam, bukan sekadar formalitas tetapi mekanisme penting untuk memastikan setiap kebijakan publik didasarkan pada pertimbangan holistik dan inklusif, bukan keputusan sepihak yang mengabaikan suara legislatif dan aspirasi masyarakat.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow