Kritik Tajam KH Imam Baihaqi: PBNU Kini Lebih Berperilaku Seperti Mesin Politik Ketimbang Organisasi Keagamaan

Ulama Rembang KH Imam Baihaqi melayangkan kritikan keras terhadap kepemimpinan PBNU, menyatakan organisasi tersebut kini bersikap lebih seperti mesin partai politik ketimbang lembaga keagamaan. Kritik ini terkait dengan pemberlakuan kembali Perkum di Muktamar NU ke-35.

Aug 30, 2026 - 19:56
Aug 30, 2026 - 19:56
 0  4
Kritik Tajam KH Imam Baihaqi: PBNU Kini Lebih Berperilaku Seperti Mesin Politik Ketimbang Organisasi Keagamaan

Reyben - Gelombang kritik bergema dari kalangan internal Nahdlatul Ulama setelah keputusan kontroversial diambil dalam sidang Muktamar NU ke-35. Kali ini, suara penentangan datang dari tokoh pesantren berpengaruh, KH Imam Baihaqi, Pengasuh Pondok Pesantren Ma'hadul I'lmi Asy-Syar'ie Rembang, yang secara terbuka mengatakan bahwa Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) saat ini tampak lebih mengutamakan kepentingan politik daripada misi keagamaan organisasi.

Pernyataan pedas tersebut dilontarkan KH Imam Baihaqi berkaitan dengan pemberlakuan kembali Peraturan Rumah Tangga (Perkum) yang telah memicu polemik di internal NU. Menurutnya, keputusan yang diambil pimpinan sidang Muktamar tersebut mencerminkan pergeseran fokus organisasi dari nilai-nilai spiritual menuju perhitungan-perhitungan pragmatis yang sarat muatan politis. Kritik ini menjadi indikator bahwa tidak semua elemen NU setuju dengan arah kebijakan yang diambil pimpinan organisasi saat ini.

KH Imam Baihaqi, yang merupakan salah satu ulama terpercaya dengan basis pengikut luas di Jawa Tengah, menilai bahwa PBNU kini memiliki perilaku dan cara kerja yang menyerupai mesin partai politik ketimbang organisasi Islam tradisional yang seharusnya menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan dan kesejahteraan umat. Pernyataannya ini menjadi sorotan penting mengingat Nahdlatul Ulama adalah organisasi massa terbesar di Indonesia dengan jutaan anggota yang tersebar di berbagai daerah. Jika kalangan internal mulai merasa kecewa, ini bisa membawa implikasi serius terhadap kohesi organisasi.

Perbedaan pandangan mengenai Perkum ini bukanlah hal sepele. Dokumen regulasi organisasi memiliki dampak langsung terhadap mekanisme pengambilan keputusan, distribusi kekuasaan, dan cara NU berinteraksi dengan dunia politik. Pemberlakuan kembali Perkum yang dinilai KH Imam Baihaqi sebagai langkah politis ini menunjukkan adanya fraksi dalam NU yang memprioritaskan kepentingan tertentu di atas kepentingan umum organisasi. Sentimen yang bergembira dari kalangan pesantren dan ulama independen ini perlu menjadi peringatan bagi kepemimpinan NU agar kembali fokus pada misi utama organisasi.

Fenomena ini mencerminkan tantangan besar yang dihadapi organisasi besar berbasis massa di era modern. Di satu sisi, NU harus aktif dalam kehidupan sosial-politik untuk memastikan kepentingan umat Islam terlindungi. Di sisi lain, keterlibatan berlebihan dalam permainan politik dapat menggerus kredibilitas moral organisasi sebagai lembaga keagamaan. Komentar KH Imam Baihaqi menjadi semacam alarm yang mengingatkan pentingnya keseimbangan antara peran sosial-keagamaan dengan keterlibatan politik yang proporsional.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow