Kemacetan Bandung Melonjak di Hari Kedua Lebaran, Kecepatan Kendaraan Merayap Hingga 20 km/jam
Bandung mengalami kemacetan parah di hari kedua Lebaran dengan kecepatan rata-rata kendaraan merosot drastis hingga 20,7 km/jam. Situasi ini terjadi di berbagai titik strategis kota dan diperkirakan akan berlanjut hingga akhir libur nasional.
Reyben - Bandung kembali dihadapkan pada situasi lalu lintas yang memicu kesabaran para pengendara. Pada Minggu pagi tanggal 22 Maret 2026, pemantauan real-time dari VIVA Otomotif menunjukkan kecepatan rata-rata kendaraan di ruas-ruas utama Bandung hanya mencapai 20,7 km/jam. Angka ini menandakan terjadinya penurunan signifikan dari kondisi normal, ketika kendaraan biasanya dapat melaju dengan kecepatan 40-50 km/jam. Situasi ini menjadi pertanda bahwa arus mudik dan balik lebaran di hari kedua perayaan telah menciptakan beban berat bagi infrastruktur jalan Kota Parahyangan.
Dari pengamatan lapangan, kemacetan terjadi tidak hanya di satu lokasi strategis, melainkan tersebar di berbagai titik penting Bandung. Kawasan Pasupati, Cicaheum, hingga koridor Dago menjadi zona merah dengan volume kendaraan yang sangat tinggi. Penumpukan kendaraan terjadi akibat kombinasi dari beberapa faktor, mulai dari penutupan jalan parsial untuk perbaikan infrastruktur, berkurangnya kapasitas jalur akibat parkir liar, hingga peningkatan drastis jumlah kendaraan yang meninggalkan atau kembali ke Bandung setelah merayakan Lebaran di daerah asal masing-masing. Selain itu, kurangnya koordinasi antar aparat kepolisian dan dinas perhubungan dalam manajemen arus lalu lintas turut memperumit situasi di lapangan.
Para pengguna jalan yang terjebak dalam kemacetan ini mengalami berbagai kendala. Waktu tempuh yang seharusnya hanya memerlukan 15 menit berubah menjadi 45 menit atau bahkan lebih lama. Hal ini berdampak tidak hanya pada keterlambatan sampai tujuan, tetapi juga peningkatan konsumsi bahan bakar dan stres berkendara yang meningkat. Beberapa pengendara bahkan memilih untuk mengubah rute perjalanan mereka dengan memanfaatkan jalan-jalan alternatif, meskipun tidak semua jalur pintas tersebut lebih efisien. Bagi pengguna layanan transportasi publik, situasi ini juga menciptakan ketidakpastian waktu tiba dan beban kapasitas penumpang yang melampaui standar keselamatan.
Pihak Dishub Kota Bandung telah mengeluarkan himbauan kepada masyarakat untuk menghindari perjalanan jika tidak mendesak atau menunda perjalanan hingga arus mulai normal. Selain itu, polantas juga telah menyiapkan tim-tim khusus untuk mendistribusikan beban lalu lintas ke jalur-jalur alternatif dan membantu kendaraan yang mengalami kendala. Namun, upaya ini dinilai belum optimal mengingat tingginya antusiasme masyarakat untuk mudik dan balik rumah setelah perayaan Lebaran. Dengan mempertimbangkan tren peningkatan volume kendaraan yang terjadi setiap tahunnya, diperkirakan kondisi kemacetan di Bandung akan terus berlanjut hingga akhir periode libur nasional Lebaran minggu depan.
Disarankan bagi para pengendara untuk mengatur strategi perjalanan dengan lebih matang, memilih waktu dan rute yang tepat, serta meningkatkan kesadaran berkendara yang aman dan tertib. Pengalaman kemacetan hari kedua Lebaran ini menjadi refleksi pentingnya perencanaan infrastruktur jalan yang lebih baik dan sistem manajemen lalu lintas yang lebih modern di kota-kota besar Indonesia. Pemerintah Kota Bandung juga diharapkan dapat memanfaatkan momentum ini untuk mengevaluasi dan meningkatkan kapasitas serta efisiensi ruas-ruas jalan utama guna mengantisipasi pergerakan massa dalam jumlah besar di masa mendatang.
What's Your Reaction?