Kebijakan Chromebook Nadiem di Sekolah Dinilai Menguntungkan Google, Hakim Ungkap Bukti Kontrak

Hakim mengungkapkan bukti bahwa kebijakan Chromebook era Nadiem Makarim ternyata menguntungkan Google lebih dari institusi pendidikan. Kontrak pengadaan 2019-2022 dirancang menciptakan ketergantungan terhadap ekosistem Google.

Jul 1, 2026 - 00:04
Jul 1, 2026 - 00:04
 0  0
Kebijakan Chromebook Nadiem di Sekolah Dinilai Menguntungkan Google, Hakim Ungkap Bukti Kontrak

Reyben - Dalam persidangan yang mencuri perhatian publik, seorang hakim mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa kebijakan pengadaan Chromebook dan perangkat digital lainnya yang digagas oleh mantan Menteri Pendidikan Nadiem Makarim periode 2019-2022 ternyata memberikan keuntungan berlipat ganda kepada raksasa teknologi Google. Sidang yang membahas kasus pengadaan teknologi pendidikan ini menjadi sorotan serius mengingat menyangkut anggaran publik yang sangat besar dan pelaksanaan program strategis nasional di sektor pendidikan.

Hakim dalam putusannya merinci bagaimana strategi implementasi Chrome Device Management (CDM) beserta seluruh ekosistem Chromebook menciptakan ketergantungan sistematis terhadap produk Google. Data yang dihadirkan di persidangan menunjukkan bahwa kontrak pengadaan perangkat yang ditandatangani antara Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dengan pihak ketiga sebenarnya dirancang sedemikian rupa sehingga Google menjadi pihak yang paling diuntungkan secara finansial. Struktur kontrak tersebut mengandung klausul-klausul yang mengunci institusi pendidikan untuk terus menggunakan layanan Google dalam jangka panjang, menciptakan siklus ketergantungan yang sulit untuk diputus.

Menurut analisis hakim, skema pengadaan Chromebook yang dilaksanakan selama empat tahun tersebut tidak sepenuhnya mempertimbangkan alternatif teknologi lokal atau platform yang lebih terjangkau. Keputusan untuk memilih ekosistem Google secara eksklusif telah menyebabkan pengeluaran dana pendidikan nasional yang seharusnya bisa dialokasikan untuk kebutuhan infrastruktur lainnya. Hakim juga menyoroti bahwa proses tender dan seleksi vendor tidak dilakukan dengan transparansi penuh, sehingga menimbulkan keraguan tentang objektifitas pengambilan keputusan. Laporan teknis yang dihadirkan dalam persidangan menunjukkan bahwa beberapa fitur Chromebook yang disediakan sebenarnya tidak optimal untuk kebutuhan pembelajaran di sekolah-sekolah Indonesia.

Kejadian ini membuka diskusi lebih luas tentang pentingnya due diligence yang ketat dalam pengadaan teknologi untuk pendidikan. Para ahli pendidikan dan observer kebijakan publik menyatakan bahwa keputusan pengadaan perangkat digital seharusnya melibatkan evaluasi menyeluruh tentang dampak jangka panjang, sustainability, dan kemampuan institusi pendidikan untuk mengoperasionalkan teknologi tersebut secara mandiri. Putusan hakim ini diharapkan menjadi pembelajaran berharga bagi pemerintah dan lembaga pendidikan dalam membuat keputusan pengadaan teknologi di masa depan, dengan lebih mengutamakan prinsip transparansi, akuntabilitas, dan kepentingan pendidikan nasional.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow