Hati-hati! Silaturahmi Bisa Jadi Bumerang Dosa Kalau Niatnya Melenceng

Silaturahmi bisa berubah menjadi dosa jika niatnya tidak benar. Buya Yahya menjelaskan pentingnya memurnikan niat sebelum mengunjungi keluarga atau teman agar ibadah ini tetap bernilai di sisi Allah.

Mar 25, 2026 - 10:28
Mar 25, 2026 - 10:28
 0  0
Hati-hati! Silaturahmi Bisa Jadi Bumerang Dosa Kalau Niatnya Melenceng

Reyben - Silaturahmi adalah salah satu ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Namun, siapa sangka bahwa aktivitas mulia ini bisa berubah menjadi dosa jika niat yang mendasarinya tidak benar? Itulah peringatan penting yang disampaikan oleh Buya Yahya, tokoh ulama terkemuka Indonesia, dalam salah satu ceramahnya yang menyentuh hati banyak umat.

Menurut penjelasan Buya Yahya, silaturahmi bukanlah sekadar tindakan fisik mengunjungi keluarga atau teman. Lebih dari itu, silaturahmi adalah manifestasi dari niat tulus untuk menjalin hubungan baik, saling mendoakan, dan mempererat tali persaudaraan dalam Islam. Ketika seseorang melakukan silaturahmi dengan niat yang salah, misalnya untuk pamer kekayaan, menunjukkan status sosial, atau bahkan dengan tujuan mencari keuntungan pribadi, maka perbuatan tersebut tidak hanya kehilangan nilainya sebagai ibadah, melainkan bisa menjadi dosa. "Niat adalah segalanya dalam setiap amal perbuatan," tegas Buya Yahya mengutip hadis Nabi Muhammad SAW.

Buya Yahya menjelaskan beberapa contoh silaturahmi yang bisa berubah menjadi dosa. Pertama, silaturahmi dengan niat riya atau pamer. Ketika mengunjungi seseorang sambil memamerkan perhiasan mewah, mobil mahal, atau gaya hidup glamor, maka ada unsur kesombongan yang merusak niat ibadah tersebut. Kedua, silaturahmi yang didasari niat mencari keuntungan semata. Misalnya, mengunjungi seseorang hanya karena ingin meminta uang, jabatan, atau kepentingan duniawi lainnya tanpa tulus dari hati. Ketiga, silaturahmi untuk memata-matai, mencari aib, atau mengumpulkan informasi pribadi seseorang untuk kemudian digunakan sebagai senjata gosip. Dalam kasus ini, tindakan yang seharusnya memperkuat hubungan justru menjadi awal permusuhan dan perselisihan.

Ulama berpengalaman ini juga menekankan pentingnya melakukan introspeksi diri sebelum melakukan silaturahmi. Bertanyalah pada diri sendiri: apakah saya mengunjungi saudara karena benar-benar ingin berbagi kebaikan? Apakah niat saya murni untuk merapatkan silaturahmi dan saling mendoakan? Atau adakah tersembunyi niat lain yang tidak sesuai dengan ajaran Islam? Dengan melakukan pemeriksaan niat ini, seseorang bisa memastikan bahwa setiap langkah yang diambil sungguh-sungguh untuk memenuhi perintah Nabi Muhammad SAW yang mengatakan bahwa silaturahmi adalah amal yang disayangi Allah.

Buya Yahya juga menyebutkan bahwa silaturahmi yang dilakukan dengan niat benar memiliki banyak manfaat spiritual maupun sosial. Hubungan antar keluarga dan teman akan semakin erat, saling menolong dalam kesusahan akan lebih mudah terwujud, dan yang terpenting adalah mendapatkan ridha serta keberkahan dari Allah SWT. Sebaliknya, silaturahmi dengan niat yang tercemar akan membawa konsekuensi negatif, baik di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu, kesadaran akan pentingnya menjaga niat dalam setiap tindakan menjadi kunci utama bagi setiap Muslim yang ingin berbuat kebajikan.

Pesan dari Buya Yahya ini adalah pengingat yang sangat relevan di era modern ini. Di tengah masyarakat yang semakin individualistis dan materialistis, semangat silaturahmi sering kali tergerus. Bahkan ketika silaturahmi masih dilakukan, terkadang tersembunyi niat-niat yang tidak lurus. Oleh sebab itu, umat Islam perlu terus mengingatkan diri untuk kembali kepada nilai-nilai murni dari ibadah silaturahmi. Jangan biarkan aktivitas positif ini berubah menjadi amal yang sia-sia atau bahkan merugikan secara spiritual. Mulailah dari diri sendiri dengan murnikan niat, ikhlas dalam setiap kunjungan, dan selalu mengharapkan ridha dari Allah semata.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow