Gerah di Kota: Bagaimana Warga Miskin Bertahan dari Terik yang Membakar

Panas kota menjadi musuh siluman masyarakat miskin urban. Riset terbaru mengungkap bagaimana mereka berinovasi untuk bertahan, dari mengubah jadwal kerja hingga menumpang di tempat publik yang sejuk. Namun, solusi darurat ini tak bisa berlangsung selamanya.

Oct 24, 2026 - 18:07
Oct 24, 2026 - 18:07
 0  5
Gerah di Kota: Bagaimana Warga Miskin Bertahan dari Terik yang Membakar

Reyben - Panas ekstrem di perkotaan bukan sekadar masalah iklim. Bagi jutaan masyarakat berpenghasilan rendah yang tinggal di kawasan urban, fenomena ini telah menjadi tantangan kehidupan sehari-hari yang nyata dan menyiksa. Sebuah riset terbaru mengungkap bahwa kelompok ekonomi lemah di kota-kota besar Indonesia telah mengembangkan berbagai strategi unik untuk menghadapi suhu yang terus merangkak naik, mulai dari penyesuaian pola aktivitas hingga adaptasi sosial yang menghemat energi dan biaya hidup.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketika termometer mencapai angka 35 derajat Celsius atau lebih, komunitas berpenghasilan rendah tidak memiliki pilihan mewah seperti menyalakan pendingin ruangan sepanjang hari. Mereka terpaksa mengurangi aktivitas outdoor pada jam-jam panas terik, menggeser pekerjaan informal mereka ke sore atau malam hari, dan memanfaatkan ruang publik yang tersedia untuk mencari angin yang lebih sejuk. Strategi ini, meski tidak ideal, telah menjadi bagian dari rutinitas bertahan hidup yang harus mereka lakukan setiap hari. Fenomena ini juga menunjukkan ketimpangan akses terhadap teknologi pendingin dan fasilitas yang lebih nyaman di kalangan masyarakat kaya.

Para peneliti juga menemukan bahwa adaptasi sosial menjadi kunci penting dalam menghadapi krisis panas ini. Warga miskin perkotaan sering berkumpul di taman kota, stasiun transportasi umum, atau area komersial yang memiliki pendingin ruangan untuk sekedar melepas penat dari terik matahari. Pola hidup kolektif ini menciptakan fenomena budaya baru di tengah kota, di mana masyarakat dari berbagai latar belakang berbagi ruang publik sebagai pelarian dari panas. Menariknya, adaptasi ini juga mencerminkan solidaritas komunitas yang masih kuat, meski tersembunyi di balik kesulitan ekonomi yang mereka hadapi.

Akan tetapi, penelitian ini juga menyuarakan kekhawatiran serius tentang kesehatan jangka panjang dari praktik adaptasi yang bersifat sementara ini. Perubahan pola aktivitas yang drastis dapat mempengaruhi produktivitas kerja, kesehatan mental, dan kesejahteraan fisik mereka. Selain itu, ketergantungan pada fasilitas publik yang terbatas juga membuka peluang terjadinya penyakit menular di kalangan kelompok yang sudah rentan ini. Para ahli menyerukan perlunya kebijakan pemerintah yang lebih inklusif, seperti pembangunan infrastruktur hijau, penyediaan ruang pendingin publik gratis, dan program bantuan energi terbarukan untuk rumah-rumah masyarakat berpenghasilan rendah agar mereka tidak perlu lagi bergantung pada adaptasi darurat.

Kesimpulannya, meskipun masyarakat berpenghasilan rendah telah menunjukkan daya tahan yang luar biasa dalam menghadapi panas perkotaan, ini bukan solusi permanen. Diperlukan komitmen nyata dari berbagai pihak untuk menciptakan kota yang lebih adil, lebih sejuk, dan lebih inklusif bagi semua lapisan masyarakat. Riset ini menjadi pengingat bahwa perubahan iklim bukan sekadar isu lingkungan, tetapi juga isu sosial dan kemanusiaan yang mendesak untuk segera ditangani.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow