FIFA Dikritik Bermain Favoritisme, Standar Ganda dalam Soal Piala Dunia 2026 Kembali Terbongkar
FIFA kembali menjadi sorotan publik karena dinilai menerapkan standar berbeda dalam evaluasi penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Amerika. Kasus Indonesia diungkit kembali sebagai bukti favoritisme badan dunia terhadap negara-negara besar.
Reyben - Kontroversi seputar penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat terus berkembang, dengan sejumlah kritik pedas tertuju pada FIFA yang dinilai menerapkan standar berbeda dalam evaluasi kelayakan tuan rumah. Kali ini, persoalan baru muncul ketika kasus serupa yang menimpa Indonesia di masa lalu diangkat kembali sebagai pembanding, memicu pertanyaan mengapa badan sepak bola dunia memiliki sikap yang berbeda-beda dalam menangani masalah serupa.
Indonesia sendiri pernah menjadi korban keputusan FIFA yang kontroversial terkait persiapan infrastruktur dan keamanan. Dulu, FIFA dikenal tegas menolak atau memberikan syarat ketat untuk pengurusan tuan rumah apabila standar keamanan dan fasilitas belum memenuhi harapan. Namun, perlakuan yang sama seolah tidak berlaku ketika menyangkut Amerika Serikat. Beberapa analis olahraga dan pengamat FIFA menunjukkan bahwa badan dunia ini tampak menggunakan ukuran ganda dalam menjalankan regulasinya, membuat transparansi dan keadilan dalam proses seleksi tuan rumah menjadi dipertanyakan.
Kritik semakin gencar ketika beberapa negara peserta mengajukan keberatan terkait kondisi stadion, sistem transportasi, dan protokol keamanan di Amerika Serikat yang masih dalam tahap perbaikan. Padahal, jika standar yang sama diterapkan kepada Indonesia atau negara berkembang lainnya, kemungkinan besar permintaan revisi jauh lebih banyak. Situasi ini menciptakan persepsi bahwa FIFA lebih lenient terhadap negara-negara besar dengan kekuatan ekonomi dan politik yang signifikan, sementara negara-negara lain diperlakukan dengan kriteria yang jauh lebih ketat dan sulit dipenuhi.
Para ahli menyatakan bahwa inkonsistensi ini merusak kredibilitas FIFA sebagai institusi yang seharusnya menjalankan aturan secara objektif dan konsisten. Transparansi dalam proses pengambilan keputusan menjadi kunci untuk memulihkan kepercayaan publik terhadap organisasi sepak bola internasional. Apabila FIFA tidak segera memperjelas standar seleksi tuan rumah dan menerapkannya secara merata, kontroversi serupa akan terus berulang di masa mendatang, mengikis legitimasi Piala Dunia sebagai ajang yang truly universal dan adil bagi semua negara peserta.
What's Your Reaction?