Diterjang Serangan Rudal, WNI di Teheran: 'Setiap Malam Kami Berlindung di Bunker'
WNI di Teheran hidup dalam ketakutan setiap hari dengan serangan rudal yang terus-menerus. Mereka berbagi kisah mengenaskan tentang berlindung di bunker dan kehilangan rutinitas normal akibat eskalasi AS-Israel.
Reyben - Suara ledakan yang memecah kesunyian malam menjadi rutinitas menakutkan bagi ribuan warga negara Indonesia yang masih bertahan di Teheran. Ketika ketegangan antara Amerika Serikat dan Israel mencapai puncaknya, para WNI menemukan diri mereka terjebak di tengah eskalasi geopolitik yang paling berbahaya di kawasan Timur Tengah selama bertahun-tahun terakhir. Setiap hari membawa ketidakpastian, setiap malam membawa ancaman nyata dari serangan rudal yang bisa datang kapan saja tanpa peringatan.
Salah seorang WNI bernama Ahmad, yang bekerja sebagai tenaga profesional di sebuah perusahaan konstruksi Teheran, menceritakan pengalaman traumatisnya dengan nada yang masih getir. Menurutnya, kehidupan normal praktis tidak ada lagi sejak gempuran rudal dimulai beberapa minggu lalu. Pagi hari dihabiskan dengan mengecek berita, siang hari dilewatkan dengan kekhawatiran, dan malam hari menjadi periode paling mendebarkan ketika alarm sirene udara bisa berbunyi setiap saat. Ahmad mengungkapkan bahwa dirinya dan keluarganya tidur dengan pakaian lengkap, siap berlari menuju ruang bunker yang telah disiapkan di kompleks apartemen tempat tinggal mereka. Banyak tetangga yang menghindar, membeli tiket pesawat dengan harga mahal, tapi Ahmad memilih tinggal karena masih memiliki tanggung jawab pekerjaan.
Dari lapangan, gambaran kondisi Kota Teheran jauh berbeda dengan bayangan kota metropolitan yang damai. Gedung-gedung pencakar langit terlihat seperti benteng pertahanan dengan lampu yang padam sepanjang malam untuk menghindari menjadi target. Jalanan yang biasanya ramai menjadi sepi, pedagang kaki lima tutup lebih awal, dan transportasi umum beroperasi dengan jadwal yang tidak menentu. Sekolah-sekolah juga telah ditutup sementara, membuat anak-anak WNI kehilangan rutinitas pendidikan mereka. Situasi ini menciptakan ketakutan psikologis yang mendalam, terutama bagi generasi muda yang baru pertama kalinya mengalami perang sejati. Beberapa keluarga WNI telah memutuskan untuk kembali ke Indonesia, meninggalkan harta dan pekerjaan mereka di Teheran karena kondisi tidak lagi aman.
Kementerian Luar Negeri RI telah mengeluarkan travel warning dan aktif menghubungi seluruh WNI yang terdaftar di Teheran untuk memastikan keamanan mereka. Beberapa WNI telah difasilitasi untuk melakukan evakuasi melalui rute yang aman, namun masih ada yang memutuskan untuk tetap tinggal dengan alasan ekonomi dan pekerjaan. Cerita dari Ahmad dan puluhan WNI lainnya ini menjadi reminder betapa rapuhnya keamanan global dan betapa pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi krisis geopolitik. Mereka berharap eskalasi dapat dihentikan segera agar kehidupan normal bisa kembali terwujud, dan gempuran rudal hanya menjadi kenangan buruk yang cepat terlupakan.
What's Your Reaction?